Hutan & Taman, Wadi Rum, Yordania

MENIKMATI TEH MANIS ORANG BEDOUIN DI RUMAH PAK LAWRENCE

Sekali lagi kami dibawa ke tempat yang tidak kami ketahui. Ahmed parkir truk di samping tenda yang mirip dengan tempat istirahat di Red Sand Dune.

Kami turun dari truk dan mengikutinya ke sebuah tenda besar dengan lantai semen. Di dalamnya  sudah ada dua wisatawan lelaki dan perempuan ditemani pemandu dan penjaga tenda. Di pintu masuk sebelah kanan tenda terdapat meja besar dengan segala macam souvenir yang dijual seperti penutup kepala, gelang, kalung, kohl dan masih banyak lagi.

Setelah mengucap salam “Salam wa aleïkoum”, kami berpencar, Steve, Pete, dan Matthew duduk bersama dengan dua turis dan sopir mengelilingi api unggun kecil. Sedang aku duduk agak jauh dari mereka. Sambil menghela napas, aku duduk di lantai diatas bantal besar. Seperti biasa Ahmed tiduran di bantal – bantal yang berjajar rapi di lantai. 

Entah berapa kali lagi kami akan berhenti dan tanpa melakukan apapun. Kalau tidak karena matahari yang menyengat pasti aku sudah eksplorasi ke sekeliling tempat ini. Aku ingin melihat banyak tempat dalam waktu singkat ini sedang Ahmed selalu capek dan ngantuk karena saat ini adalah bulan puasa dan musim panas. Selama bulan puasa sebagian besar penduduk menghindari kegiatan diluar rumah. Banyak restoran, pasar, toko, kantor dan tempat hiburan tutup.  Apalagi banyak sekali terjadi peperangan dan ketegangan di perbatasan. Beberapa kali dalam perjalanan dari Amman ke Wadi Musa aku melihat kendaran militer. 

Semakin sedikit wisatawan yang berani menginjakan kaki di negara kecil ini padahal negeri ini sarat dengan sejarah, kekayaaan alam dan keramahtamahan penduduk. Belum lagi makanan sedap yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Dalam satu sisi sedikit wisatawan memungkinkan aku menikmati setiap kesempatan tanpa banyak masalah. Ketika di Petra, aku benar – benar merasakan kemudahan mengunjungi setiap tempat dengan leluasa. Tidak berdesak – desakan dengan wisatawan lainnya yang sering kali menjengkelkan dan tidak menghormati adat istiadat setempat. Terutama yang membuatku sangat senang adalah kesempatan untuk mengabadikan photo sebanyak – banyaknya. Entah berapa banyak photo yang aku dapatkan ketika berada di Siq, Monastery dan bangunan yang bersejarah lainnya.

Salah satu pendapatan di negara kecil ini adalah pariwisata. Dampak dari berkurangnya jumlah wisatawan menyebabkan penurunan pendapatan negara dan penduduk. Yordania dikelilingi oleh negara-negara yang berperang atau konflik dengan negara lain, tetapi Yordania aman. Pada awalnya, saya ragu untuk memperpanjang perjalanan setelah pergi ke Mesir dan Israel. Setelah membaca banyak cerita dari travel blogger bahwa Jordan aman, aku memberanikan diri pergi sendirian menjelajah Petra dan Wadi Rum. Apalagi banyak artikel perjalanan yang menunjukkan Jordan mudah dinavigasi bahkan untuk pelancong wanita seperti aku yang berkali-kali tersesat dalam perjalanan. Aku tidak mencari agen perjalanan atau memesan banyak tur selama hari-hariku di Yordania, hanya memesan kamar di Amman dan perjalanan gurun di Wadi Rum dari operator tur lokal. Berbekal pengetahuan dari internet dan travel blog, aku meminta agen perjalanan di Indonesia untuk memesan tiket sepuluh hari setelah kelompok kembali ke Indonesia. Keputusan yang tidak pernah aku sesali.

Aku sangat senang mengalami (meski hanya setengah hari) keindahan alami Wadi Rum. Ketika duduk bersila aku tidak mendengar truk pickup mondar – mandir  atau orang yang masuk dan keluar dari tenda. Aku merasakan keheningan yang menenangkan, kadang-kadang suara angin menderu dari jauh atau angin gurun yang membelai rambutku. Sesekali aku mendengar celoteh dan tawa orang – orang di dekat api unggun. 

Pengalaman yang luar biasa!.

Tak lama kemudian Mark duduk di sampingku. Kami duduk tanpa mengatakan apa-apa. Penjaga tenda menawari kami secangkir teh manis, teh suku Bedouin yang rasanya seperti ketika aku minum di dekat Galata Tower di Istanbul. Warnanya coklat hampir kehitaman, pahit dan sangat manis. Teh Bedouin adalah campuran daun kering, bunga kering, kayu manis, berbagai tanaman gurun dan tanaman langka lainnya membuat harga teh mahal. Prosesnya cukup lama dan banyak gula. Seteguk teh manis dan pahit mengembalikan energi.

Bosan duduk di dalam tenda aku memutuskan melihat sekeliling area yang dekat dengan tenda. Sambil melambaikan tangan mengisyaratkan kepada penunggu tenda aku berjalan keluar dari tenda. Di sebelah kiri aku melihat sebuah reruntuhan bangunan dengan dinding sampingnya melekat pada batu besar. Apakah reruntuhan itu merupakan bagian dari Lawrence House? Karena penasaran begitu kembali ke Amman, aku mencari di internet. Menurut cerita di internet, rumah ini digunakan oleh Lawrence untuk menyimpan senjata. Aku kecewa karena pemahaman bahasa Inggris Ahmed sangat terbatas. Konsekuensinya aku hanya mengerti sekelumit tentang keajaiban Wadi Rum dan kehidupan orang-orang Bedouin. Aku mengandalkan ingatan dari apa yang telah saya baca sebelum meninggalkan Indonesia. Sambil melihat susunan batu di sekitar bangunan, aku berjalan mencari tempat teduh menghindari teriknya matahari. Tak berapa lama Steve, Pete, dan Matthew datang dari arah bebatuan. Saya tidak menyadari bahwa mereka sudah meninggalkan tenda.

“You can go up and see the scenery from the top,” kata Pete. 

“Nah…I am good. I am not really up to walk up.”

 

MUSHROOM ROCK

Cuaca dan angin tidak hanya mengukir batu pasir menjadi jembatan alami secara alami, namun juga membentuk formasi batuan yang terkenal. Salah satunya adalah Mushroom Rock berbentuk seperti jamur di tengah padang pasir. Salah satu batu yang aku lihat di banyak media.

Aku turun dari truk dan mengambil beberapa foto. Sambil menunggu rombonganku yang sedang naik ke tempat yang lebih tinggi, aku mengatur syal lebar untuk melindungi kepala dari matahari. Aku lebih suka memakai syal daripada topi. Matthew harus memegang topinya ketika angin kencang berhembus sementara Steve (mengenakan ikat kepala ala orang Bedouin) dan aku leluasa menikmati perjalanan. Penting melindungi wajah saya dari sinar matahari dan rambut dari debu. Selain itu, aku harus mengamankan kameraku yang berharga setiap kali berada di bawah sinar matahari atau di sekitar tempat berdebu.

Ahmed benar – benar piawai mengemudi, dia mengendarai pickup dengan kencang dan berputar – putar beberapa kali seperti dalam film action. Aku biasanya takut dengan manuver seperti ini di jalan raya, tetapi di sini aku tertawa terbahak-bahak sambil memegang erat-erat bangku.

 

tiarapermata@wadirumhouselawrence

 

tiarapermata@wadirumhouselawrence

 

tiarapermata@wadirumhouselawrence

 

tiarapermata@wadirumhouselawrence

House of Lawrence.

 

tiarapermata@wadirumhouselawrence

 

tiarapermata@wadirumhouselawrence

 

tiarapermata@wadirumhouselawrence

 

tiarapermata@wadirumhouselawrence

 

tiarapermata@wadirumtrip

 

tiarapermata@wadirumtrip

 

tiarapermata@wadirumtrip

 

tiarapermata@wadirumtrip

 

tiarapermata@wadirumtrip

 

tiarapermata@wadirumtrip

 

tiarapermata@wadirumtrip

 

Facebook Comments

Pos ini juga tersedia dalam bahasa: English