Jalan-jalan, Yordania

DARI MATA AIR KE JEMBATAN KECIL DI WADI RUM, JORDAN

Grup manula dari Afrika Selatan meninggalkan Rum Village dahulu. 

Mereka mengucapkan ‘see you later’ sambil melambaikan tangan. Semua barang bawaan dan tas tangan ditinggal karena nanti akan ada kendaraan khusus membawa ke kamp. Grupku terdiri dari empat pria Jerman, mereka adalah teman dekat dan biasa bepergian bersama. Setelah kami berkenalan aku mengucapkan berterima kasih karena bisa bergabung dengan mereka.

Wadi Rum adalah kawasan yang dilindungi yang merupakan padang pasir terindah di dunia. Terletak di Yordania bagian selatan dengan luas 720 kilometer persegi. Wadi Rum bukan melulu gurun pasir melainkan gurun gunung. Penuh dengan pemandangan yang dramatis, pegunungan terjal dan bahkan pasir yang berubah warna. Keunikan Wadi Rum menjadikan tempat yang pilih oleh pembuat film pada banyak film diantaranya Transformers 2: Revenge of the Fallen, The Last Days on Mars, The Martian dan masih banyak lagi lainnya.

Satu-satunya penduduk tetap Wadi Rum adalah beberapa ribu orang Bedouin yang hidup di Rum Village. Sementara beberapa mempertahankan gaya hidup nomaden, sebagian besar sekarang tinggal agak permanen di Rum Village. Orang Bedouin adalah penggembala kambing dan domba di sekitar padang pasir. Mereka pindah dari satu tempat ke tempat lain dan mendirikan tenda saat mereka menetap sementara waktu. Karena Rum Village adalah satu-satunya pemukiman yang terletak di kawasan lindung, elemen penting yang merupakan kehidupan suku Bedouin benar-benar dilestarikan. Inilah yang membuat aku tertarik untuk mengunjungi Wadi Rum. Pengalaman sekali seumur hidup untuk menikmati budaya orang-orang Bedouin asli meskipun hanya untuk beberapa hari.

Sayang sekali Ahmed tidak fasih berbahasa Inggris jadi aku tidak bisa bertanya tentang kehidupan orang Bedouin. Aku tidak menemui orang Bedouin lain selama dalam perjalanan ini selain Ahmed, Fuad dan beberapa orang supir/pemandu lainnya. Tidak ada orang Bedouin yang menggembalakan ternak mereka atau sedang mengerjakan pekerjaan mereka. 

Wadi Rum adalah tujuan wisata sepanjang tahun. Maret – Mei dan September – November adalah bulan-bulan paling beriklim menyenangkan untuk eksplorasi. Musim semi terutama ketika tanaman gurun mulai berkembang dan lembah diwarnai dengan warna – warna cerah bunga liar. Musim panas dan musim dingin bisa menjadi kurang nyaman tapi bulan – bulan seperti ini menjadikan Wadi Rum tenang dan nyaman untuk di eksplorasi karena tak banyak wisatawan. Aku kesini pada awal akhir musim semi dan menjelang musim panas. Pada malam hari tidak terlalu dingin, sedangkan pada siang hari tidak terlalu panas. 

 

tiarapermata@wadirumjordan

We were leaving Rum Village to Lawrence Spring.

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

LAWRENCE SPRING

Kami naik truk pickup dengan kanopi terpal untuk melindungi kami dari sinar matahari dengan bangku panjang di kedua sisi. Aku memilih duduk paling ujung dekat ‘pintu’ keluar sehingga dapat dengan bebas mengambil foto dari sisi yang berbeda. Di bawah bangku ada kotak pendingin untuk air mineral. Pemberhentian pertama adalah Lawrence Spring sekitar 7 menit atau 2,3 ​​km dari Desa Wadi Rum.

T.E. Lawrence adalah tokoh legendaris yang memegang peran kunci dalam perjuangan untuk Pemberontakan Arab melawan Kekaisaran Ottoman. Dia dengan Pangeran Feisal bin Al-Hussein memilih Wadi Rum untuk menjadi markas besar selama Perang Dunia I. Kebanyakan orang telah mendengar tentang film Lawrence of Arabia dimana dia menjadikan Wadi Rum sebagai rumahnya. 

Mata air berada di atas bukit. Lawrence mendaki bukit dan bersantai di air dingin yang mengalir dari celah di bebatuan. Orang Bedouin menyebutnya Ain Abu Aineh. Mata air ini sejuk bahkan di musim panas. Selama musim semi, pengunjung akan disapa oleh aroma rempah yang memabukkan. Sampai hari ini, mata air ini menyediakan sumber air bagi orang Bedouin. Memerlukan satu jam untuk mendaki melalui  batu besar untuk menemukan mata air. Pohon ara yang indah menjadikan tempat ini cocok untuk untuk beristirahat setelah mendaki. Meskipun hanya beberapa meter persegi, area di sekitar mata air itu mirip dengan sebuah oase mini.

Sopir Bedouin kami, Ahmed, gesit dan ramah. Sayangnya, sebagai pemandu ia tidak memiliki banyak pengetahuan plus bahasa Inggrisnya buruk. Apalagi bulan ini adalah bulan puasa, dia cenderung berteduh dari sinar matahari atau istirahat. Ketika kami berhenti di sini, dia tidak menjelaskan apa-apa. Begitu kami sampai di sini, dia menghilang mungkin berkumpul dengan supir lainnya.

 

tiarapermata@wadirumjordan

The spring is up on the hill. Another hour to reach it. The tour that I took did not include it.

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

AL RAMAL RED SAND DUNE 

Gurun Rum Wadi dipenuhi bukit pasir baik bukit pasir warna kuning dan merah. Bukit pasir yang paling banyak dikunjungi adalah Al Ramal Red Sand Dune. Terletak di depan Khazali Canyon. Bukit pasir ini lebih mudah didaki karena seperti bersandar di bebatuan sehingga memudahkan memanjat melalui batu di sampingnya. Pengunjung yang masih memiliki banyak energi lari dari atas bukit pasir atau sandboarding. Namun banyak turis hanya ingin bersantai  dan menikmati pemandangan.

Aku melihat banyak turis disini sehingga memilih tidak naik ke gunung pasir. Aku malas mendaki baik melalui gundukan pasir atau melalui bebatuan. Masih ada tempat lain dimana aku bisa melihat ke seluruh penjuru Wadi Rum. Namun di bawah bukit pasir inipun aku bisa melihat warna merah yang menyala dari bukit pasir kontras dengan warna langit biru menjadikan pemandangan yang menakjubkan.

Sambil menunggu mereka turun, aku masuk ke tempat istirahat yang terletak dekat dengan parkir. Hanya aku saja turis yang datang ke tempat ini, selebihnya adalah sopir/pemandu dan pengurus tempat istirahat. Aku tolak dengan halus ketika mereka menawari teh. Aku lebih tertarik dengan cara mereka membuat air panas. Ternyata mereka masih memakai kayu bakar, lebih tepatnya dahan kayu. Di bagian luar tenda mereka berjualan batuan yang ternyata batu lava. 

Kurang lebih setengah jam kemudian, ke empat teman baruku turun dari bukit pasir. Tak ada yang tertarik untuk sandboarding malahan mereka ngomel – ngomel karena sepatu mereka penuh dengan pasir. Walah untung aku tidak naik. Malas nomer dua….malas  membersihkan sepatu. 

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

tiarapermata@wadirumjordan

There are two alternatives to walk up to the summit of the dune from the rock or straight through the sand. Visitors can use sandboarding from the rest area.

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

KHAZALI CANYON ATAU JEBEL KHAZALI 

Khazali Canyon adalah ngarai yang paling banyak dikunjungi di Wadi Rum. Dari kejauhan, aku bisa melihat tangga ke celah sempit di antara dinding batu yang tinggi. Retakan batu yang sempit menciptakan semacam terowongan panjang dengan genangan air. Meski ngarai itu panjang, pengunjung hanya melewati 100 meter di depan sempit dengan hanya satu jalan masuk dan keluar. Di dinding bagian dalam ngarai, ada banyak prasasti Nabatean dan Thamud dalam bentuk petroglif, tulisan atau gambar yang diukir menjadi batu. Ada foto-foto orang, unta, kuda, kambing gunung dan tulisan-tulisan yang berasal dari zaman pra-Islam dan Thamud.

Prasasti yang berusia ribuan tahun masih dalam kondisi baik karena sebagian besar berada di luar jangkauan sinar matahari, angin, hujan, dan manusia. Sayangnya, air merusak prasasti Thamudic bagian bawah, pengunjung harus benar-benar mencari dengan seksamakarena prasasti ini hampir tidak terlihat.

Aku tidak bisa berjalan jauh mungkin hanya lima puluh meter karena bagian yang lebih dalam penuh dengan orang-orang yang ingin melihat bagian yang lain. Meskipun hanya ada delapan orang yang berjalan di depanku, orang harus bergiliran masuk dan keluar.

Salah satu temanku, Steve, memanjat batu dan melihat bagian dalamnya yang menurut cerita ada kolam buatan tangan yang dibuat oleh leluhur orang Bedouin. Di musim dingin kolam-kolam dipenuhi dengan air hujan.

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

tiarapermata@wadirumjordan

Look up to the sky.

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

LITTLE BRIDGE

Sejak perjalananan bis dari Petra ke Wadi Rum aku sudah menyaksikan jajaran gunung batu indah yang tersebar sejauh mata memandang. Demikian juga di Gurun Wadi Rum di penuhi dengan tebing tinggi yang menjulang dan gunung-gunung yang menakjubkan. 

Salah satu fenomena alam yang spektakuler adalah jembatan batu. Tujuan kami berikutnya adalah mengunjungi jembatan alami yang namanya sesuai dengan bentuknya yaitu Little Bridge. Jembatan indah yang berukuran sekitar empat meter terletak di Khor al Ajram.

Banyak yang bilang untuk naik ke puncak jembatan ini adalah ‘piece of cake’ namun bagiku ini adalah tantangan yang menakutkan dan mendebarkan. Namun aku sudah sampai disini dengan segala perjuangan dan pengorbanan. Aku harus melakukan ini meski kakiku ingin berlari menjauh dan tanganku gemetar. Aku segera meletakan kamera SLRku ke belakang punggung dan mulai merayap naik ke atas batu. Pete membantuku merayap naik dan dua teman lain dengan sabar menunggu di belakangku. 

Setelah di atas jembatan aku mendapat hadiah yang fantastis. Sejauh mata memandang hanya pasir dengan gradasi yang mempesona, warna langit yang biru dan jajaran gunung batu yang mempesona seperti Jabal Rum, Jabal Um Ishrin dan Jabal Khazali.

“Hi….Do you mind taking my pictures?.”

Tanpa menunggu salah satu dari mereka, aku taruh SLR camera dibawah dan berjalan ke arah jembatan. Aku merasakan kakiku ringan dan jantungku berdetak keras. Well…now or never, segera aku jalan perlahan ke depan tanpa melihat ke bawah. Setelah berjalan dua meter (serasa seratus meter) aku membalikan badan dengan hati-hati dan perlahan. Mark sudah mengambil fotoku beberapa kali. Sepuluh detik kemudian aku berjalan cepat menghampiri Mark. Huh…rasanya lega banget menjejakan kaki ke atas batu yang kokoh dibanding berdiri diatas jembatan batu yang rasanya mau ambruk.  Setelah mengucapkan terima kasih aku lihat hasil jepretannya. Wow…Mark memang jago mengambil foto. Aku tampak santai dan tertawa lebar. Ketika sedang melihat hasil fotoku, tiba – tiba Steve sudah berada di depanku (dia yang naik ke batu di Khazali Canyon). 

“Goodness me…where did you come from?” tanyaku tak percaya.

“From there,” kata Steve dengan santai sambil menunjuk ke bawah. Dia naik melalui jalur yang lebih susah dan tidak biasa. 

Kemudian tujuan berikutnya Ahmed membawa kami tak jauh dari Little Bride. Sambil menutup pintu truk dia mengajak kami turun dari pickup truk sambil berkata “Lunch!”. Tak terasa sudah waktu makan siang. Kami akan makan siang di bawah dinding batu yang terlindung dari sinar matahar. Ahmed menurunkan beberapa barang dan menebar tikar. Mark, Steve dan aku duduk di tikar sedang dua teman lain memilih jalan – jalan di sekitar. Ahmed menyiapkan dapur darurat di belakang truk pickup.  Sekitar setengah jam kemudian kami disuguhi makan siang dengan pita bread, hummus, tomat, mentimun dan jeruk. 

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

Bersambung…

 

 

Facebook Comments

Pos ini juga tersedia dalam bahasa: English