Jalan-jalan, Yordania

BEST WISHES FROM THE DESERT

Best wishes from Desert tulis Fuad pemilik kamp Bedouin di Wadi Rum di akhir emailnya.

Akhirnya aku mengkonfirmasi jadwal dan biaya tour dengan Fuad setelah dua bulan diskusi panjang lebar melalui email dengan segala macam pertanyaan. Fuad menjawab semua pertanyaan dengan sabar dan detil. 

Tibalah aku di ujung penantian yang membuat hatiku berdebar-debar dan (kalau bisa) menari-nari kesenangan. Hari ini adalah hari keberangkatanku dari Wadi Musa ke Wadi Rum. Meskipun tadi malam hujan deras, pagi ini cuaca sangat indah. Tidak ada satupun tanda keributan yang terjadi tadi malam. Aku bangun pagi-pagi sebelum matahari terbit, badan terasa segar setelah beristirahat satu hari penuh. Badanku sudah tidak terasa pegal dan hilang semua rasa lelah. Pertanda baik bahwa aku akan menikmati waktu menyenangkan di Wadi Rum. Ketika check out, aku hanya melihat satu orang lelaki dari Cina yang akan ke Wadi Rum. Hostel masih sepi hanya terdengar dengkuran penjaga malam dari dalam area duduk.

Aku lega dan senang memutuskan untuk tinggal di hostel pada hari berikutnya. Cuaca berubah drastis dari pagi hari yang cerah tiba – tiba cuaca buruk di siang hari. Mulai dengan hujan lebat sebelum jam dua belas siang kemudian diikuti oleh angin kencang selama berjam-jam. 

Selain itu aku ragu-ragu pergi ke Petra atau tinggal di hostel pada hari kedua. Aku sudah membeli tiket Petra yang berlaku dua hari seharga 55 JD atau US $ 77. Semalaman aku memikirkan ini sampai aku ketiduran. Sekitar jam satu pagi aku terbangun ketika merasakan seluruh tubuh pegal terutama kaki dan telapak kaki. Aku belum pernah berjalan sejauh itu dengan medan berat dan cuaca panas. Untung adikku memberi balsem penghilang rasa sakit. Tadi malam setelah mandi aku oles keseluruh tubuh dan pagi ini juga. Aku sarapan pagi jam sepuluh lewat lima menit kemudian kembali tidur melanjutkan istirahatku. Menjelang siang aku merasa lebih baik dan bisa tidur dengan nyenyak tanpa rasa sakit.

 

tiarapermata@wadimusarumjordan

Evening lights from the city of Petra.

 

tiarapermata@wadimusarumjordan

I ate breakfast at the hostel’s verandah. The morning light was so lovely and the hostel was quiet. I had a peaceful breakfast. Then the weather shifted drastically in the afternoon. It was rain and storm all day.

 

Perjalanan yang rumit ini juga perlu persiapan yang panjang. Sebenarnya pilihan pertama hendak bergabung dengan grup tur yang pernah aku ikuti saat ke Galapagos, Ekuador. Namun tanggal yang tidak sesuai dengan kedatanganku di Amman dan harga tur beberapa kali lipat lebih mahal dibandingkan aku bepergian sendiri. Apalagi setelah banyak membaca dari banyak travel blogger yang traveling ke Yordania, terutama wanita yang traveling solo, aku temui Yordania tidak sulit untuk di navigasi. Aku mau menguji nyaliku. Tentu aku was-was tapi aku yakin pasti bisa melakukan perjalanan ini sendiri terutama setelah bepergian melintasi Amerika Serikat

Fuad menghubungi operator bus untuk menjemputku di salah satu hostel di Wadi Musa. Minibus tiba tepat waktu dan penuh sesak dengan pelancong yang ingin pergi ke Wadi Rum. Wisatawan dari berbagai negara sebagian besar datang berkelompok. Ada sekelompok senior yang energik dari Afrika Selatan, tiga teman dari Australia, dan beberapa dari negara lain.

Selain seorang pengemudi juga ada kondektur yang fasih berbahasa Inggris. Kondektur menghitung penumpang dan menanyakan nama, kebangsaan dan dimana berhenti. Aku menyebutkan nama pemilik kamp Bedouin and beberapa lain hanya minta di turunkan di Rum Village. Perjalanan selama 1 jam dan 50 menit dimulai ketika bis keluar dari Wadi Musa. Perjalanan  ke Wadi Rum sejauh 112 km bermula ketika bis melaju Kings Hwy dan kemudian disambung ke Route 35. Setelah itu dilanjutkan ke Desert Hwy sampai ke Wadi Rum Road. 

Perjalanan singkat ini sangat menyenangkan. Kondektur mengatur agar kami berhenti di salah satu ‘lookout’ yang berada tepat di atas gunung. Pemandangan pagi yang indah dengan gunung berwarna coklat, keemasan sampai dengan kelabu dan langit biru di warnai dengan awan putih. Rupanya operator bis orang yang kreatif agar penumpang tak bosan, dia menghibur penumpang dengan memainkan lagu kebangsaan dari masing – masing negara. Setiap penumpang yang lagu kebangsaan di perdengarkan wajib bernyanyi. Aku sangat terharu ketika mendengarkan lagu kebangsaanku Indonesia Raya berkumandang di tanah Yordania. Setiap penumpang juga ikut bertepuk tangan dan bersorai – sorai setiap kali lagu – lagu berakhir. 

 

tiarapermata@wadimusarumjordan

The landscape from the lookout on top of the mountain. It was truly gorgeous up here. The traffic was not much along the way to Wadi Rum.

 

tiarapermata@wadimusarumjordan

 

tiarapermata@wadimusarumjordan

 

tiarapermata@wadimusarumjordan

 

Ketika bis sampai di Visitor Center Wadi Rum, kondektur meminta setiap penumpang yang tidak memiliki tiket atau Jordan Pass untuk membeli tiket. Fuad memberi tahu aku di emailnya untuk mengabaikan orang-orang yang menunggu di luar gedung. Mereka menghabiskan waktu disana untuk mencari turis, mereka bahkan berbohong bahwa mereka bekerja untuk pemilik kamp Bedouin. Mereka bisa meyakinkan siapa saja sehingga banyak yang tertipu. Dia tidak akan menunggu di sana dan demikian juga guide yang bekerja dengan dia tidak akan menunggu di sana. Mereka menunggu di rumahnya di Rum Village.

Aku  berjalan langsung ke Visitor Center dan membeli tiket. Untungnya, karena bulan puasa tidak ada yang menunggu di luar kantor. Aku membeli tiket masuk ke Wadi Rum dan berjalan kembali ke bus. Kondektur bertanya (lagi) kepada setiap penumpang siapa operator mereka. Beberapa penumpang belum memiliki operator, jadi dia akan menurunkan mereka di pintu masuk Rum Village. Kondektur tidak hanya menurunkan penumpang begitu saja tapi dia memastikan penumpang tidak lupa barang bawaan mereka dan juga memastikan tak ada penumpang yang terlantar. Setelah 5 kilometer berkendara, pengemudi dan kondektur mengantarku ke rumah pemilik kamp Bedouin. Ternyata kelompok dari Afrika Selatan turun di tempat yang sama. Fuad menyambut kami di depan gerbang dan memperkenalkan seorang volunteer dari Spanyol, Maria. 

Lega rasanya setelah memasuki area duduk yang terlekat di luar rumah. Perjalanan panjang dari mulai pertama kali melakukan perencanaan sampai dengan kedatanganku di Wadi Rum. Rasanya aneh. Entah mengapa…anti klimaks?? atau keberuntungan yang beruntun??. 

Fuad juga memberi tahu bahwa aku bisa bergabung dengan kelompok lain. Mereka adalah empat pelancong pria dari Jerman yang tidak keberatan aku bergabung. Selain itu aku tidak perlu membayar lebih karena memperpanjang satu hari lagi di kamp Bedouin. Hore !!! 

Aku bersama kelompok manula menunggu pemandu dan mobil yang akan membawa kami ke Padang Pasir Wadi Rum. Sambil menikmati teh hangat yang disediakan oleh tuan rumah kami saling bercerita pengalaman perjalanan kami. Mereka selalu melakukan perjalanan bersama setiap tahun. Mereka adalah kakak dan adik, sahabat dan suami-istri. Berbaur jadi satu sama lain. Ketika mereka mencoba menjelaskan hubungan mereka, mereka tertawa karena penjelasan mereka membuatku bingung. Meskipun mereka kelompok yang sudah berusia diatas 70- an tetapi berjiwa muda dan fit. Mereka tidak hanya berjalan ke Treasury tapi juga jalan ke Monastery. Kemarin mereka semua bisa menaiki anak tangga yang berjumlah lebih dari 800. Bahkan ketika cuaca sangat buruk mereka masih bisa bersenang-senang.

 

tiarapermata@wadimusarumjordan

I took this photo when I stepped out of the Visitor Center. I did not recognize until later that the background of the office is the well knows rock formation of The Seven Pillars of Wisdom. The name came from T.E. Lawrence’s or Lawrence of Arabia. He served as a British liaison officer when the Arab Revolt against the Ottoman Turks from 1916 – 1918.

 

tiarapermata@wadimusarumjordan

 

tiarapermata@wadimusarumjordan

 

Bersambung…

 

 

Facebook Comments

Pos ini juga tersedia dalam bahasa: English