Perjalanan Darat, Petra, Yordania

PERJUANGAN MENDAKI HIGH SACRIFICE PLACE DI PETRA

Aku berjalan cepat menuju kemana Rayner menghilang. Tak lama kemudian aku bertemu Rayner  sedang memotret pemandangan. 

Lega akhirnya kami berjalan bersama lagi.Beberapa kali aku meminta Rayner untuk berhenti beristirahat. Interval berhenti kami dari 1-2 menit kemudian menjadi 5 menit sekali berhenti. Kemudian aku tidak bisa menghitung waktu lagi karena kecapaian. Kami berhenti di suatu tempat ketika aku tidak bisa berjalan lagi. Sambil duduk di jalan yang tampak seperti anak tangga yang hilang kami makan siang dan melepas lelah. 

Aku memesan sarapan dan makan siang dari hostel. Tetapi entah bagaimana dua bungkus makanan itu sama isinya yogurt, tomat, mentimun, roti pitta, mentega kecil, dan sendok plastik dan garpu. Rayner hanya membawa satu liter air  jadi kami berbagi makan siang. Rayner only brought one liter of water, so we shared lunch.Kami makan sambil bercakap-cakap. Sesekali kami terdiam mendengarkan suara burung dan menikmati kesunyian. 

Segera kami melanjutkan berjalan. Di tengah eksplorasi kami bertemu tiga wanita Jepang. Mereka fasih berbahasa Inggris. Rayner lebih banyak berbicara dengan mereka karena aku terlalu lelah.Tiba – tiba pria yang aku temui (tanpa keledai) berjalan ke arah kami. Rupanya dia adalah pemandu mereka. Itulah sebabnya si keledai tidak mengindahkan perintahnya ternyata dia bukan pemiliknya. Apa gunanya menyewa pemandu jika dia tidak memandu kliennya?.

Anak tangga semakin curam dan kadang-kadang tidak tampak seperti anak tangga. Malah ada sepotong batu menyerupai anak tangga, tidak jelas kemana harus melangkah. Aku mengikuti setiap batu yang di pijak Rayner. Meskipun tergoda untuk melihat sekeliling sambil berjalan, aku harus konsentrasi memperhatikan setiap langkah. Memakai sepatu khusus untuk mendaki tidak menjamin aku  tidak tersungkur.

Perlahan tapi pasti kami melewati jalan setapak yang seolah tak ada ujungnya. Bahkan kami melewati seonggok batu yang dipahat menjadi semacam terowongan. Semakin saya berjalan semakin kagum dengan orang Nabatea yang mengukir jalan ini dengan alat pahat. Kami naik dan turun tangga yang semakin sempit dan berkelok – kelok.

Sebagian besar jalan setapak ditandai namun sering kami tidak melihat petunjuk jalan. Beberapa kali Rayner meminta aku untuk menunggu dan dia memanjat ke atas batu. Aku menggelengkan kepala karena dia sangat gesit naik ke atas batu. Dia memegang batu lalu melompat ke batu lain. Aku senang memiliki teman perjalanan seperti dia. Tidak tahu apa yang akan aku lakukan tanpa Rayner.

 

High Sacrifice Place atau Jabal Al-Madhbah

Salah satu dari puluhan tempat tinggi di sekitar Petra. High Place Sacrifice bertengger di tebing hampir 170 m ke Wadi Musa di bawah. Banyak artikel yang aku baca katanya ada sebuah platform dengan panjang sekitar 15m dan lebar 6m berfungsi sebagai tempat upacara keagamaan.

The High Place Sacrifice terletak di puncak bukit. Aku ingin melihat tapi harus memanjat batu besar, tidak ada tangga dan tidak ada tempat untuk berpijak. Sangat buruk untuk kakiku yang lelah dan gemetaran. Aku tidak ingin mengambil risiko hingga dengan sangat menyesal  aku suruh Rayner naik sendiri. Sementara menunggu dia turun aku duduk di batu terdekat, beristirahat dan mengatur nafas.

 

tiarapermata@highplacesacrifcepetra

 

tiarapermata@highplacesacrifcepetra

 

tiarapermata@highplacesacrifcepetra

Two 6 meters high obelisk on top of the mountain known as Attuf Ridge. The obelisks were carved from the rock rather than placed on top.

 

tiarapermata@highplacesacrifcepetra

 

tiarapermata@highplacesacrifcepetra

Empty stall.

 

tiarapermata@highplacesacrifcepetra

The Crusader Fort. In the 12th century, the Crusaders built fortresses but left this place after a while. The wall is all that remains of a crusader castle.

 

tiarapermata@highplacesacrifcepetra

 

tiarapermata@highplacesacrifcepetra

 

tiarapermata@highplacesacrifcepetra

 

tiarapermata@highplacesacrifcepetra

Many steps do not resemble steps anymore. It’s just a flat rock. I kept my eyes to Rayner. I took the same steps as he was.

 

Turun Lewat Wadi Al-Farasa

Aku bertemu beberapa wisatawan sambil menunggu Rayner. Mereka selalu bertanya dimana High Sacrifice Place kemudian aku menunjuk ke arah batu tepat diatas mereka. Aku melakukannya sampai beberapa kali. Salah seorang turis wanita setengah baya dengan sedikit bantuan dari pasangannya memanjat batu dengan mudah. Alamak…benar-benar melukai perasaanku.

Rayner turun kurang dari sepuluh menit kemudian. Dia bilang tempatnya indah. Ada batu datar untuk pemujaan. Hanya itu saja. Kemudian dia berkata,”Let’s go.” sambil berjalan cepat dengan sandal jepitnya. 

Alih-alih kembali ke arah sebelumnya kami melanjutkan perjalanan ke Wadi al-Farasa yaitu ngarai di belakang High Place of Sacrifice. Jalan turun tidak seberat jalan setapak ke High Sacrifice Place. Aku merasa jauh lebih baik karena banyak tempat teduh. Lebih banyak angin dan hawa sejuk karena batu besar sepanjang jalan menghalangi terik matahari. 

Semakin kami berjalan semakin saya kagum dengan karya besar orang Nabatean. Mereka dengan cerdiknya merekayasa padang pasir menjadi kota maju.

Tidak seberapa jauh dari High Sacrifice Place  kami sampai di tangga berkelok-kelok menuju ke bawah. Terkadang menyempit dan lebih curam tetapi tanda-tandanya jelas. Anak tangga ini membawa ke Triclinium Garden dan Tombs of Roman Soldiers. Kemudian jalur menuju situs terkenal lainnya seperti Renaissance Tomb, Zantur Hill, sebelum bergabung kembali dengan jalur utama.

Tangga turun yang berliku dan menakjubkan  menyuguhkan pemandangan fasad di bawah.

 

tiarapermata@highplacesacrifcepetra

The Tomb of the Soldier – from above.

 

tiarapermata@highplacesacrifcepetra

Stunning winding stairs down to the Garden Triclinium.

 

tiarapermata@highplacesacrifcepetra

 

tiarapermata@highplacesacrifcepetra

Tomb or temple (left below) surrounded by beautiful multicolored rocks.

 

tiarapermata@highplacesacrifcepetra

Another steps.

 

Garden Triclinium

Tempat untuk menghormati orang-orang yang dimakamkan di Makam Tentara Romawi di dekatnya. Kami berjalan mengitari situs sambil mengambil foto. Kemudian kami berjalan ke sisi lain dari  Garden Triclinium.

 

tiarapermata@Wadi alfarasapetra

 

tiarapermata@Wadi alfarasapetra

This hall with two freestanding columns was used for annual feasts to honour the dead placed in the Roman Soldier’s Tomb. The hall is unique in Petra because it has carved decoration on the interior walls.

 

tiarapermata@Wadi alfarasapetra

Picture taken in front of the Garden Triclinium.

 

tiarapermata@Wadi alfarasapetra

Small shrine.

 

tiarapermata@Wadi alfarasapetra

Water cistern served the Roman Soldier Tomb below.

 

Triclinium Soldier Tombs

Kami memasuki salah satu makam yang indah yang disebut Triclinium Soldier Tombs. Aku mendapati banyak foto makam ini dari berbagai media di internet. Sekarang aku berdiri di sini. Hampir aku tidak mempercayainya. Saya sesekali mengambil foto dan pindah ke sisi yang berbeda. Sebagian besar saya berdiri diam-diam mengagumi keindahan batu berwarna-warni. 

Tak lama kemudian dua orang masuk ke dalam. Seorang turis wanita muda dan pemandu lokal. Aku tidak terlalu memperhatikan mereka, lebih suka sibuk mengambil foto dari sudut yang berbeda. Aku hanya mendengar sayup – sayup percakapan mereka. Ketika saya menoleh ke belakang, aku hampir tertawa. Rupanya sang pemandu tidak ingin Rayner mendengarkan penjelasannya dengan berusaha mendekatkan kepalanya ke arah wanita muda itu. Namun Rayner (mungkin dia tidak menyadari) semakin mendekat dan mendengarkan dengan penuh perhatian. 

Menurutku Triclinium Soldier Tombs memiliki warna batu pasir yang paling keren seantero Petra ini. Dindingnya dari lapisan batu pasir yang terbentuk 540 juta tahun yang lalu. Menyuguhkan aneka ragam warna cemerlang yang berasal dari berbagai jenis mineral di dalam batu pasir.

 

tiarapermata@wadialfarasapetra

Most of the rock-cut tombs with monumental façades created from the end of the Most of the rock-cut tombs with monumental façades created from the end of the 1st century BC onward.

 

tiarapermata@wadialfarasapetra

 

tiarapermata@wadialfarasapetra

The Tomb of the Soldier also called the Tomb of the Roman Soldier. The main facade has four columns with three carved figures between columns. It is one of the best-preserved tombs.

 

tiarapermata@wadialfarasapetra

 

tiarapermata@wadialfarasapetra

 

tiarapermata@wadialfarasapetra

The tomb is called Renaissance Tomb because the urn above the gate stirs up elements of the Italian style of architecture.

 

tiarapermata@wadialfarasapetra

The interior of the Renaissance Tomb (200BC-200AD) excated in 2003. There were 14 graves found cut into the floor.

 

tiarapermata@wadialfarasapetra

 

tiarapermata@wadialfarasapetra

 

tiarapermata@wadialfarasapetra

 

Kompleks makam yang menawan ini juga dihiasi oleh tanaman liar yang berbunga dengan indahnya. Kami berjalan perlahan melewati beberapa makam kecil. Batu yang tinggi menciptakan rasa teduh di sekitar kuburan. Aku berharap bisa tinggal lebih lama di sini tetapi rencana kami masih banyak. Kami berencana menjelajah beberapa rute lainnya sebelum hari berakhir.

Di tengah perjalanan kami bertemu seorang wanita muda yang kami temui di kuburan tadi sedang mengambil foto. Rayner mengobrol dengannya sementara aku mendengarkan diskusi mereka dan mengambil lebih banyak foto. Tidak lama Rayner (seperti yang dia lakukan untukku) menawarkan untuk mengambil fotonya bahkan foto lompat. Kami berbincang dan bercanda. Di suatu tempat terbuka, setelah beberapa belokan, kami bertemu pemandu tournya. 

 

Bukit Zantur

Ketika kami melewati komplek makam, kami tiba di area terbuka. Tidak ada lagi tempat teduh atau batu yang melindungi kami dari teriknya matahari. Aku mulai kepanasan karena tak ada lagi angin sejuk yang berhembus. Tak lama kemudian aku terengah-engah dan lagi – lagi merasakan langkahku semakin berat.

Ketika kami melewati tempat terbuka ini aku melihat dari kejauhan puing – puing batu yang menyerupai sebuah rumah. Di sinilah mansion pedagang Nabatean abad pertama digali oleh tim Swiss. Semakin banyak peninggalan terungkap di Bukit Zantur. Setelah berjalan sebentar, kami tiba di kaki tangga menuju the Monastery.

 

tiarapermata@zanturhillpetra

 

tiarapermata@zanturhillpetra

 

tiarapermata@zanturhillpetra

 

tiarapermata@zanturhillpetra

 

tiarapermata@zanturhillpetra

 

tiarapermata@zanturhillpetra

 

tiarapermata@zanturhillpetra

Temple of Dushara.

 

tiarapermata@zanturhillpetra

 

tiarapermata@zanturhillpetra

 

Di kaki anak tangga menuju Monastery terdapat restoran besar. Sehubungan dengan bulan puasa, restoran tutup. Kami menghampiri sekumpulan unta yang sedang beristirahat di dekat pepohonan. Kami duduk beristirahat di atas pagar pembatas sebelum melanjutkan petualangan ke Monastery. Aku tidak yakin apakah mampu melanjutkan perjalanan. Aku tidak bisa menggerakkan kaki bahkan tidak merasakan jari kakiku.  

Sambil meluangkan waktu untuk beristirahat, kami bertegur sapa dengan pasangan lansia dari Jerman. Mereka menunggu di sana sementara putra mereka berjalan ke Monastery.

“Let’s go,” Rayner bangkit dan berjalan ke Monastery.

“Oh, nooooo!” kataku dalam hati. Berat rasanya kaki ini melangkah. Terseok-seok aku membuntuti Rayner. Tas punggungku rasanya semakin berat. Setiap kali aku selalu berpikir…selangkah lagi..selangkah lagi ….lagi…lagi…

 

Facebook Comments

Pos ini juga tersedia dalam bahasa: English