Asia, Hutan & Taman, Petra, Yordania

PETRA KOTA KAUM NABATEAN DI SELATAN YORDANIA

Pertama kali melihat Petra ketika saya menonton film Indiana Jones and The Last Crusade.

Saat itu saya terkesan dengan kemegahan The Siq dan Treasury. Saya bergabung dengan tur peziarah yang berakhir di Yordania. Alih-alih kembali ke Indonesia bersama grup, saya memutuskan untuk memperpanjang sembilan hari lagi.

Yordania adalah negara dengan jumlah besar pengungsi dari negara-negara di Timur Tengah. Saya sedikit berkecil hati karena lokasinya antara Suriah, Irak, Palestina, Israel, dan Mesir. Terus terang cemas memikirkan perjalanan pertama kali di negara Timur Tengah sendirian. Tetapi semakin cemas dan takut, semakin saya ingin melakukannya. 

Ternyata sebagian besar informasi yang saya dapatkan benar-benar membuat hati  tenang. 

Hampir tidak ada cerita yang mencekam sepanjang pelancong menggunakan akal sehat. Saya semakin senang ketika membaca lebih dalam tentang Yordania. Begitu banyak hal yang ditawarkan Yordania untuk para pelancong yang mencintai alam, budaya, dan penduduknya.

Saya khusus ingin mengunjungi Petra dan Wadi Rum. Kedua situs menduduki peringkat atas dari semua situs di seluruh dunia. Petra adalah kota di Jordan selatan. Ribuan tahun yang lalu, antara 400 SM. dan 106 A.D. adalah pusat perdagangan dan ibu kota kerajaan Nabatean. 

Orang Nabatea adalah orang Arab nomaden yang terbiasa hidup di gurun. Mereka ahli dalam memanen air hujan, pertanian dan ukiran batu. Pamor Petra menurun ketika pedagang lebih memilih berdagang melalui rute laut dan setelah gempa bumi tahun 363 yang menghancurkan banyak bangunan.

Rose City yang ditinggalkan itu ditemukan kembali pada tahun 1812 oleh Johann Ludwig Burckhardt. Dia menyamar sebagai orang Badui dan diam-diam memasuki kota. Kemudian misteri kota yang hilang terungkap kepada dunia. 

Setengah dari Petra dibangun dan setengahnya dipahat dari tebing batu dan gunung.

 

tiarapermata@jordanpetra

Wadi Musa at Night.

 

tiarapermata@jordanpetra

Morning sight from hostel’s verandah.

 

tiarapermata@jordanpetra

 

tiarapermata@jordanpetra

Ready from some actions.

 

tiarapermata@jordanpetra

The Siq early morning.

 

LOKASI

Terletak 240 km selatan ibu kota Amman dan 120 km utara kota laut merah Aqaba. Pertimbangan jarak mengemudi:

  • Amman ke Petra – 3 jam
  • Aqaba ke Petra – 2 jam (dari Laut Merah)
  • Petra ke Wadi Rum – 1 jam 40 menit
  • Hotel dekat Petra ke Dead Sea North – 3 jam

Cara termudah untuk berkeliling di Yordania adalah dengan transportasi umum atau mobil. Yordania memiliki jalan raya gurun pasir yang luar biasa dan rambu-rambu mudah diikuti. The King’s Highway menyajikan pemandangan yang indah melewati Kastil Al Karak, Madaba dan Gunung Nebo.

Pelancong menyewa mobil atau mobil dengan sopir atau bahkan seperti saya menggunakan transportasi umum. Bus umum seperti Bis JETT membawa pengunjung dari Amman ke Petra. Bis JETT dari Stasiun Abdali di Amman berangkat pada pukul 6:30 pagi dan mencapai Petra sekitar pukul 10:30 pagi. 

Banyak pengunjung juga mengunjungi Petra dari Aqaba. Taman arkeologi ini hanya berjarak 1,5 jam berkendara dari kota di tepi pantai itu. Bis umum juga berangkat dari pasar pusat di Aqaba dan melewati Petra.

 

WAKTU TERBAIK MENGUNJUNGI PETRA

Bagi saya kapanpun berkunjung ke tempat asing/baru adalah saat yang tepat. Sepanjang tahun adalah saat yang tepat. Saya menikmati nuansa dan keunikan berbeda di setiap tempat yang belum pernah saya kunjungi.

Menurut beberapa sumber, waktu terbaik adalah selama musim semi dan musim gugur. Musim semi antara Maret hingga Mei dan Musim Gugur antara September hingga November. Temperatur sejuk di siang hari. 

Sebaliknya di musim dingin cuaca dingin terasa sampai ke tulang di malam hari. Sebaliknya selama musim panas gerah dan tidak menyenangkan mendaki atau berlama-lama di tempat yang tidak beratap.

Saya melancong ketika Yordania memasuki musim panas. Untung tidak terik di siang hari, bahkan beberapa hari berawan dan hujan. Suatu siang di Petra hujan deras dengan angin kencang. 

 

tiarapermata@jordanpetra

Quiet morning.

 

tiarapermata@jordanpetra

 

tiarapermata@jordanpetra

 

tiarapermata@jordanpetra

 

tiarapermata@jordanpetra

 

MENGHINDARI KERUMUNAN DI PETRA

Waktu terbaik untuk menghindari keramaian di Petra adalah tiba di lokasi sepagi mungkin. 

Saya bangun pagi-pagi dan naik shuttle yang disediakan dari hostel ke pintu masuk Petra. Meskipun semalam banyak tamu makan malam di hostel, pagi ini hanya satu orang Jepang dan saya yang numpang shuttle.

Kami mencapai pintu masuk dan berdiri di loket yang masih tutup. Mungkin saat itu adalah bulan puasa, loket penjualan tiket baru buka setelah jam 7 pagi. Menurut situs web resmi Petra, loket buka mulai pukul 6 pagi hingga 6 sore setiap hari di musim panas. Kemudian di musim dingin buka dari jam 6 pagi sampai jam 4 sore setiap hari.

Sebagian besar toko, restoran, dan kafe tutup. Hal baik lainnya mengunjungi di bulan puasa, saya tidak menemukan pedagang kaki lima di sekitar pintu masuk. Juga pengemudi gerobak, penunggang unta, dan penunggang kuda yang biasanya berdiri di depan konter. Alasan lain juga sebagian besar rombongan tur besar tiba sekitar jam 9 pagi. Saya tidak hanya menghindari pelancong perorangan tetapi juga kelompok wisata besar. Kami hanya bertemu dengan kurang dari sepuluh wisatawan ketika mendaki ke The High Place of Sacrifice.

Datang lebih awal juga ada manfaat lainnya. 

Cuaca akan semakin panas di siang hari. Meskipun cuacanya cukup menyenangkan di pagi hari, matahari siang sangat mengganggu. Saya tidak berselera naik lebih dari 700 anak tangga ke Monastery sementara matahari di atas kepala. Untung langit mendung dan berangin saat kami naik ke Monastery. Meski setiap lima menit saya berhenti, saya bisa menaklukan perjalanan yang paling melelahkan selama menapaki Petra.

Satu lagi keuntungan bermalam di Wadi Musa, saya datang lebih awal dan pergi ketika taman tutup.  

Saya juga menghindari kerumunan selama hari libur dan akhir pekan. Penduduk lokal akan mengunjungi Petra biasanya selama akhir pekan yaitu Jumat dan Sabtu. Selama Ramadhan (Juni) juga baik karena tidak banyak pelancong waktu itu. Saya melancong dengan santai.

 

MENGHABISKAN WAKTU DI PETRA

Petra adalah kota kuno yang sangat besar.

Idealnya para pelancong perlu beberapa hari untuk menjelajahi reruntuhan kota ini. Sayangnya, banyak pelancong tidak meluangkan waktu untuk menikmati Petra sebaik mungkin. Mereka lebih memilih untuk bergegas dari satu tempat ke tempat lain.

Mengingat segala upaya yang saya lakukan untuk mengunjungi Petra, alangkah kecewanya jika hanya punya waktu hanya enam jam atau kurang untuk menjelajahi Petra. Kebanyakan pelancong datang dari Amman dan kemudian kembali ke Amman pada sore harinya. Mereka rata-rata hanya sampai ke Treasury.

Ketika saya melihat peta Petra untuk pertama kalinya, saya memutuskan untuk menghabiskan setidaknya 2 hari. Dua hari penuh dari pagi hingga sore hari atau sebelum taman ditutup. Saya pasti berjalan sesantai mungkin karena banyak tangga dan menikmati waktu tanpa terburu-buru.

Hari pertama saya berjalan kaki dari The Siq ke The Treasury. Kemudian dilanjutkan dari The Treasury ke The Monastery. Saya akan duduk di salah satu kafe di sekitar The Monastery. Kemudian saya akan berjalan ke salah satu “Best View” sebelum berjalan kembali ke The Siq. Istirahat dan makan malam di hostel.

Hari kedua saya berencana untuk menyewa pemandu. Yordania bukanlah negara yang murah dan Petra lebih mahal daripada tempat lainnya di Yordania. Inilah mengapa saya benar-benar ketat dengan budget karena tidak ingin melewatkan pengalaman di Petra. 

Saya bertekad untuk memiliki pengalaman yang menyenangkan. Dengan menyewa seorang pemandu saya akan belajar tentang budaya dan sejarah kaum Nabatean. Bukan hanya itu tetapi juga cerita-cerita Badui dan anekdot yang membuat waktu saya lebih mengasyikkan. 

 

tiarapermata@jordanpetra

 

tiarapermata@jordanpetra

 

tiarapermata@jordanpetra

 

tiarapermata@jordanpetra

 

tiarapermata@jordanpetra

Diner at one of cafe near the entrance.

 

tiarapermata@jordanpetra

Stretching my legs and looked up of those beautiful tapestry.

 

 

Facebook Comments

Pos ini juga tersedia dalam bahasa: English