Asia, Perjalanan Darat, Yordania

PERJALANAN KE YORDANIA: HERE I COME!!!

Sendiri lagi. Setelah sebelas hari bersama dengan sekelompok teman baru, saya sendirian lagi.

Sendirian di tempat baru agak menakutkan, meski sudah biasa traveling sendiri.

Tur grup yang bermula dari Jakarta telah berakhir ketika bis memasuki Bandara Internasional Queen Alia. Kami berpisah di Airport Amman, Yordania setelah sebelas hari bersama dalam tur peziarah melalui Mesir, Israel dan berakhir di Yordania.

Tidak cukup waktu untuk mengucapkan selamat tinggal kepada semua teman, mereka sibuk membawa barang bawaan ke bandara. Beberapa ingat dan memeluk saya dengan erat. Sebagian besar buru-buru ingin check-in. Saya tidak keberatan karena saya merasa sedih berpisah dengan mereka. Pemandu wisata dari Jordan menghampiri dan mengajak berbincang ketika dia melihat wajah sedih saya. 

Selain sedih saya juga galau dan takut. Selalu seperti ini, perjalanan ke tempat baru membuat takut. Tidak peduli berapa kali sudah bepergian sendirian.

Singkat cerita sopir bus menurunkan saya di jalan besar dan menunjuk arah kemana melanjutkan dengan naik taksi. Dia juga menambahkan bahwa tak perlu takut karena Amman sangat aman. Dia berkata “Selamat datang di Yordania” sebelum menutup pintu bis. 

Meski dia menurunkan saya di jalan besar, jalanan sepi siang hari itu. Jarang sekali kendaraan lewat, kebanyakan taksi dan angkutan umum. Beberapa penduduk setempat berjalan cepat. Toko, restoran dan bisnis lainnya tutup.  Saya baru ingat (membaca dari beberapa artikel blog) selain bulan puasa Ramadhan, hari itu adalah hari Jumat. Setiap bisnis tutup pada hari Jumat. Akhir pekan Yordania adalah Jumat dan Sabtu. 

Sambil menunggu di taksi di sisi jalan, tiba-tiba saya merasa sedih (lagi). Saya merindukan mitra perjalanan. Kami menikmati hari yang luar biasa meskipun pertama kalinya kami bertemu. 

Saya paling kehilangan teman sekamar. Teman-teman sekamar saya membawa koper besar dan penuh dengan oleh-oleh dan baju. Mereka terheran-heran melihat saya hanya mententeng koper kabin. Bisa dibayangkan kamar kami seperti kapal pecah. Hal yang paling menggelikan ketika kami berdebat temperatur air conditioner, siapa yang tidur di extra bed (kami bertiga dalam satu kamar), siapa yang mandi dulu dan masih banyak lainnya. Saya hampir tidak percaya, tiga orang dewasa (salah satu dari kami sudah nenek) masih berdebat untuk hal yang sepele. Mengelikan !!!   

Namun demikian, saya tidak sabar untuk memulai pengalaman perjalanan baru. Apalagi Yordania adalah negara pertama saya di Timur Tengah.  Menakutkan dan pada saat yang sama menyenangkan. Tentu sisi baiknya adalah menikmati kebudayaan setempat, mengunjungi tempat baru yang menyenangkan dan bertemu teman baru.

 

Bertemu Kenalan Baru

Sebagai solo traveler sering saya khawatir kesepian.

Ternyata menjalin ikatan pertemanan dengan penduduk dan pelancong di Jordan mudah. Warga ramah kemanapun saya pergi. Saya bertemu dengan teman baru yang memberi nuansa baru dalam perjalanan solo saya pertama kali ke Timur Tengah. 

Ketika saya melakukan perjalanan ke Petra dan Wadi Rum bertemu dengan petualang dari berbagai negara. Mereka datang berkelompok maupun solo. Mulai dari teman sekantor, suami/istri, saudara, teman yang bertemu sekali setahun untuk berpetualang bersama. 

Saya bertemu dengan profesional fotografer dari Filipina yang bekerja di Dubai. Kami bertemu di Stasiun Bus Jet di Amman dalam perjalanan ke Petra. Dia menyapa saya dalam bahasa Tagalog dan, seperti biasa, saya tersenyum dan berkata “Saya dari Indonesia”. Kami berdua tertawa dan mendiskusikan rencana mengunjungi Petra.

Hari berikutnya tak sengaja kami bertemu lagi di loket ticket Petra. Kemudian kami sepakat untuk berjalan bersama. Ketika kami memasuki Petra, dia hanya berkata, “Mana kameramu.” Segera saya menyodorkan ponsel atau kamera DSLR. Dia mengabadikan foto saya dari sudut yang berbeda. Dia menyarankan agar lebih rilek dan memberi contoh pose santai. Tentu saja, ia juga memberikan kursus kilat fotografi. 

Pada kesempatan lain, ketika saya sedang dalam perjalanan ke Wadi Rum dari Petra, saya bertemu sekelompok orang tua. Mereka adalah kelompok berjiwa muda dari Cape Town, Afrika Selatan. Pada setiap kesempatan mereka bercanda, berdebat dan mendiskusikan apa saja. Bahkan mereka memiliki seorang pemimpin (saya terkesan dengan ingatannya dan kemampuan untuk berhitung tanpa kalkulator), ada yang memberi semangat pada teman yang kecapaian bahkan ada yang khusus menghitung barang bawaan.

Kami kebetulan bertemu dalam perjalanan dari Petra ke Wadi Rum di shuttle bus. Satu sama lain mereka saling terkait . Kakak beradik, istri/suami dan sahabat yang sudah puluhan tahun berpetualang bersama. Keliling dunia bersama-sama, bahkan tahun lalu pergi ke Candi Borobudur. Jarang saya mendengar orang asing menyebut salah satu atraksi di Indonesia selain Bali. Bahkan ketika bertemu orang asing, banyak yang tidak tahu bahwa Bali adalah bagian dari Indonesia.

Selama tinggal di perkemahan Badui di Wadi Rum saya bertemu seorang sukarelawan dari Spanyol. Setelah bekerja selama enam bulan di Amman, dia berencana untuk tinggal selama dua minggu di Wadi Rum. Dia bekerja tanpa dibayar tapi mendapatkan akomodasi, transportasi dan makan gratis. Sebagai balas jasanya dia akan membantu kelancaran setiap kegiatan. Mulai menyambut tamu, memberi arahan, pemandu bahkan bermalam di perkemahan. Di Wadi Rum dia menyadari bahwa air adalah elemen yang sangat berharga. Setelah seminggu di Wadi Rum dia baru mandi sekali.  

Selama tur dengan Land Rover 4×4 di Wadi Rum, saya berkenalan dengan empat orang yang berprofesi sebagai IT di Jerman. Setiap tahun mereka bertemu dan melakukan perjalanan keluar negeri bersama. Salah seorang dari mereka bisa memanjat bebatuan dengan lihainya seperti monyet…hahahahaha. Dia mengambil rute yang berbeda. Saya orang pertama yang mendaki. Ketika saya sampai di atas, saya (dengan nafas yang tersengal-sengal dan lutut gemetaran) kaget melihat dia sudah duduk diatas batu dan bersantai. 

Keuntungan bepergian dengan kelompok ini, mereka memaklumi ketidak nyamanan saya dengan ketinggian. Mereka membantu saya naik dan turun bebatuan tinggi menjulang. Mereka dengan sabar memandu saya untuk memegang atau menginjak batu yang mana. Beberapa bahkan membimbing saya dari atas dan teman yang dibelakang menahan agar tidak terpeleset.

Dalam perjalan kembali ke Amman, saya sangat kuatir karena shuttle berangkat pagi. Dua orang terlambat keluar dari kemah. Ketika dua orang ini naik Land Rover, saya sudah terlambat. Saya harus naik taxi yang bakal mahal harganya. Selain itu saat itu bulan puasa (Ramadhan) kendaraan umum jarang. Selain itu terminal akan sepi,  meski setiap orang bilang Yordania negara aman saya tetap was-was. 

Singkat cerita, dua orang yang terlambat merasa bersalah dan berjanji akan mengantar ke Amman. Akan tetapi mereka tidak langsung ke Amman. Mereka akan tur naik onta kemudian mengunjungi beberapa situs sebelum kembali ke Amman. Tentunya saya tidak keberatan. Bahkan saya beruntung sekali bertemu dengan orang baik sehingga saya dapat kembali ke Amman gratis ditambah dengan mengunjungi situs yang saya tahu tidak dilalui dengan kendaraan umum. Hmmm…berkat yang tersamar. Meski awalnya saya cemas tapi akhirnya saya tersenyum lebar. 

Sampai saat ini saya masih berkomunisi dengan teman saya itu. Saya sangat senang melakukan tur solo dan dengan kelompok saya saat ini.

 

tiarapermata@madabajordania

One of the archeology site at Madaba, City of Mosaic.

 

tiarapermata@madabajordania

St. George Church – Greek Orthodox Church.

 

tiarapermata@madabajordania

St. John the Baptist Roman Catholic Church.

 

tiarapermata@madabajordania

I choose COURAGE than comfort.

 

 

Fotografi

Ketika merencanakan setiap perjalanan, saya selalu mencari tempat yang kaya dengan budaya, kebiasaan setempat yang unik, alam yang indah dan makanan yang sedap. Selain itu saya senang mempelajari melalui lensa kamera.

Karena itu ketika saya memberi tahu agen perjalanan, saya kecewa pada percakapan pertama:

“Setidaknya kita berhenti sekitar sepuluh hingga dua puluh menit”.

“Hah … benarkah?” tak percaya dengan pendengaran saya. 

“Apa maksudmu, hanya dua puluh menit?” saya mulai merasa tidak nyaman.

“Jadwal sibuk dari pagi hingga sore. Tidak mudah untuk melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain dengan kelompok di tempat yang sibuk ”dia begitu menikmati siksaannya. 

Dia tahu saya suka memotret, jadi dia memberi saya jawaban jujur. Saya menghargainya. Tetapi dengan melakukan itu dia meluluhkan impian saya dalam beberapa menit perbincangan.

Tidak ada waktu untuk menikmati suasana dan kehidupan penduduk (saya suka duduk di bangku taman sambil nonton orang lalu lalang). Pikiran saya mengembara ketika melihat orang-orang dengan pakaian aneh berjalan melewati kami. Saya melihatnya dari banyak video perjalanan dari YouTube tentang budaya, sejarah, dan kehidupan sehari-hari penduduk setempat. Tentunya saya ingin mengalami hal yang sama.

Saya melewatkan begitu banyak peluang foto yang bagus. Tapi saya bertekad untuk berkonsentrasi pada agenda perjalanan ziarah ini. Tentu saja saya juga jengkel dengan terbatasnya waktu. Saya suka meluangkan waktu dan merasakan kedekatan dengan hal-hal yang hanya saya dengar atau baca dari berita, situs web atau, bahkan, seseorang yang sudah ada di sana.

Ya, mengambil foto-foto keren melebihi semua souvenir yang saya bawa pulang. Namun, pada akhirnya saya memilih pengalaman berada di sana. Berada di tempat yang ribuan tahun lalu menjadi tempat paling penting bagi umat manusia.

 

tiarapermata@alkarakjordania

Panorama from Kerak Castle.

 

tiarapermata@alkarakjordania

Ruin of the Castle.

 

 Agenda yang Penuh Sesak Versus Santai

Selama jadwal tur yang sibuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah, saya punya sedikit waktu untuk diri sendiri. Meskipun semuanya berjalan dengan lancar, kadang saya tertegun dan melihat sekeliling sambil berpikir “dimana saya sekarang?”.

Oleh karena saya tidak bisa menegosiasi jadwal perjalanan dengan grup, saya usahakan jadwal traveling saya lebih santai di Yordania. Selain Petra dan Wadi Rum yang jauh hari sudah saya rencanakan dan booking, saya tidak merencanakan apapun di Amman.

Grup pada hari terakhir sudah mengunjungi Amman Citadel dan Mount Nebo.  Oleh karena itu tiga hari di Amman, saya hanya menikmati suasana malam. Berjalan kaki di sepanjang bagian kota tua menikmati kebiasaan penduduk lokal berbuka puasa. Saya tercengang dengan perubahan drastis siang dan malam. Saya tidak bisa menyeberang gang atau jalan kecil. Lalu lintas macet, trotoar padat dengan orang yang berjalan atau bergerombol. 

Saya tidak sabar untuk menikmati beragam makanan yang hanya saya lihat di majalah atau vlog. Menggiurkan dengan berbagai nama yang membingungkan. Omong-omong hal paling menjengkelkan ketika bergabung mengikuti grup tur, makanan yang disediakan selama seminggu lebih adalah masakan China. Huh???…jauh-jauh dari Indonesia, tentunya ingin menikmati makanan lokal. Karena banyak peserta tur tidak tahan dengan bumbu masakan lokal, agen perjalanan lokal memberi kami menu yang cocok untuk “perut Indonesia”.

Selama mencari informasi perjalanan, saya menonton banyak film dokumenter, video blog dan membaca blog perjalanan tentang negara-negara yang akan saya kunjungi. Saya tahu dari pengalaman tidak akan punya waktu untuk membaca brosur atau buku panduan selama perjalanan. Saya lebih suka menikmati daripada berkonsentrasi pada buku atau peta. 

Membayangkan bagaimana orang hidup seribu tahun yang lalu. Menoreh dalam ingatan setiap lekuk bebatuan di Petra dan Wadi Rum. Mencium sedapnya sepiring Falafel di kota tua Amman. Oleh karena itu perjalanan setelah Yerusalem lebih rilek. 

 

tiarapermata@petrajordania

Up…up…up!!! more stairs and rocks to climb.

 

tiarapermata@petrajordania

 

tiarapermata@petrajordania

 

tiarapermata@petrajordania

 

Dari Indonesia?

Untuk pertama kalinya sepanjang kisah perjalanan saya melangla buana, seorang pemilik toko souvenir langsung bisa menebak dari mana asal saya. Ketika saya bertanya kepadanya bagaimana dia bisa menebaknya, dia berkata dari senyum saya. 

Rupanya Yordania banyak dikunjungi orang Indonesia. Sebagian besar adalah orang yang melakukan ziarah. Bahkan dia bisa sedikit bercakap dalam bahasa Indonesia. Kami berbincang-bincang cukup lama.

Sebelum balik ke hostel, saya membeli beberapa hiasan magnet lemari es. Dia membujuk untuk membeli tas, karpet ataupun souvenir lain. Saya mengatakan sejujurnya bahwa saya tidak membawa tas koper seperti turis lainnya.

Masih banyak pengalaman lain yang sangat mengena dan akan selalu saya kenang. Pernah saya baca di suatu majalah yang saya rasakan saat itu:

 

tiarapermata@wadirumjordan

Wadi Rum – Valley of the Moon.

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

tiarapermata@wadirumjordan

 

 

 

Facebook Comments

Pos ini juga tersedia dalam bahasa: English