Malang, Perjalanan Darat

HARI MENYENANGKAN DI TAMAN NATIONAL BROMO TENGGER

Saya bangun jam 9:45 pagi dan tidak bisa tidur lagi.

Saya tidak sabar menunggu sampai jam 12 malam. Besok kita akan menikmati matahari terbit di Bromo. Kami sudah merencanakannya selama beberapa bulan. Sepuluh menit setelah jam 12 tengah malam, orang yang kami tunggu datang.

Walaupun adik saya pengemudi yang handal, dia tidak tahu rute ke Gunung Bromo. Oleh karena itu kami menyewa seorang pengemudi yang akrab dengan rute ke taman nasional. Kami membawa roti, makanan ringan, dan air minum. Tak ketinggalan pakaian hangat seperti topi, sarung tangan, jaket dan penghangat leher.

Singkat cerita, kami melewati rute Pasuruan dari Malang dengan waktu tempuh 2 jam. Selain rute ini masih ada rute lain dari Malang melalui Tumpang. Menurut supir kami, rute ini yang paling mudah dan teraman.

Gunung Bromo adalah objek wisata paling terkenal di Jawa Timur. Gunung api aktif ini adalah bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang dikelilingi oleh Lautan Pasir. Dalam bahasa Jawa disebut Segara Wedi atau Lautan Berbisik.

Mobil pribadi tidak diizinkan masuk ke kawasan Gunung Bromo. Setiap pengunjung dengan mobil harus menyewa jip. Hanya pengendara sepeda motor yang diperkenankan masuk ke Taman Nasional Gunung Bromo Tengger. Toyota Hardtop jeep 4×4 adalah satu-satunya kendaraan yang tersedia untuk tur keliling Bromo. Kendaraan ini adalah pilihan terbaik untuk berkendara naik turun dari sisi bukit dan bukit pasir Bromo.

Waktu terbaik untuk mengunjungi Gunung Bromo adalah selama tahun sekolah dan hari kerja. Hari libur nasional adalah saat yang buruk untuk berlibur ke Gunung Bromo. Bukan hal yang menyenangkan untuk berdesak-desakan dengan pengunjung lain. Apalagi hanya melihat kepala orang di depan saya alih-alih pemandangan cahaya pagi. Lebih menjengkelkan terjebak kemacetan di jalan sempit dan berliku ini.

Gunung Bromo atau Gunung Bromo berasal dari nama dewa dalam ajaran agama Hindu, yaitu Dewa Brahma. Ketinggian Gunung Bromo adalah 2.392 meter di atas permukaan laut dan dikelilingi oleh kaldera atau lautan pasir.

 

BUKIT KING KONG 

Kami mulai naik sekitar pukul 4 pagi untuk mencari Gunung Bromo. Pengemudi terampil kami melewati desa-desa dengan jalan berliku yang sempit. Jip 4×4 merayap, menderu dan meliuk menuju Bukit King Kong dalam kegelapan pagi.

Terdapat beberapa tempat melihat matahari terbit dan puncak Gunung Bromo. Selain Penanjakan, juga ada Bukit King Kong dan Bukit Cinta. Penanjakan adalah yang tertinggi dengan fasilitas lengkap seperti kafe, toilet dan tempat duduk yang nyaman.

Sopir kami menyarankan pergi ke King Kong Hill. Tidak terlalu jauh tetapi masih bisa melihat matahari terbit dan kawah Gunung Bromo.

Dia menurunkan kami di bukit King Kong dan kami berjalan sebentar ke sisi terbaik. Pengintai atau bukit itu sudah penuh pengunjung. Kami meremas diri ke tempat yang sudah ramai.

Udara pagi sangat dingin.

Saya memakai empat lapis pakaian mulai pelindung leher, topi dan sarung tangan. Masih membeku. Penantian tidak sia-sia. Matahari terbit dengan indah. Kamera flash berdenyar di mana-mana, suara orang bersorak dan berteriak. Ketika matahari hampir di cakrawala lebih terang ke tanah, orang-orang menerbangkan drone.

 

tiarapermata@bromomalang

 

tiarapermata@bromomalang

 

tiarapermata@bromomalang

 

tiarapermata@bromomalang

Cinta Hill from King Kong Hill.

 

tiarapermata@bromomalang

 

KEPUTUSAN YANG SERBA SULIT

Sejauh yang saya ingat sudah mengunjungi Gunung Bromo dua kali. Dalam perjalanan ke Gunung Bromo, saya bertanya kepada pengemudi kami bagaimana kawah Gunung Bromo sekarang. Dia mengatakan kepada saya bahwa satu-satunya perubahan adalah pagar di sekitar kawah. Karena waktu kami terbatas, kami memutuskan untuk melewati kawah untuk mengunjungi tempat-tempat baru di sekitar Gunung Bromo.

Di laut pasir, ada pura Hindu yang disebut Pura Luhur Poten. Candi ini memiliki arti penting bagi masyarakat Tengger. Masyarakat yang tinggal di desa-desa di sekitar gunung. Mereka adalah Argosari, Ngadisari, Ngadas, Wonokitri, Ranu Prani, Ledok Ombo, dan Wonokerso.

Candi ini adalah tengara utama dalam upacara tahunan Kasada Yadnya berlangsung kurang lebih dalam satu bulan. Pada hari ke 14 biasanya orang Tengger akan berkumpul di Pura Luhur Poten. Mereka meminta berkah dari Ida Sang Hyang Widi Wasa dan penguasa Mahameru (Gunung Semeru).

Dekade yang lalu kami harus berjalan kaki atau naik kuda ke kawah gunung Bromo dari tempat mengintai matahari terbit. Kini jip bisa berhenti di depan tangga hingga ke kawah.

 

tiarapermata@bromomalang

Bump to bump.

 

tiarapermata@bromomalang

 

tiarapermata@bromomalang

 

tiarapermata@bromomalang

Sometimes our jeep driver took sharp turn. Scary!!. I had to close my eyes.

 

tiarapermata@bromomalang

 

tiarapermata@bromomalang

 

tiarapermata@bromomalang

 

SEGARA WEDI ATAU PASIR BERBISIK

Meskipun kami merencanakan waktu dengan sebaik mungkin, kami masih terperangkap dalam perjalanan turun. Begitu matahari terbit, kami berjalan kembali ke tempat parkir dan bertemu dengan sopir kami. Sayangnya, banyak pengunjung yang memiliki pikiran yang sama dengan kami. Ratusan jip hardtop berhimpit di jalan yang sempit.

Butuh waktu lebih dari 2 jam akhirnya mencapai Pasir Berbisik. Pasir berbisik ketika angin bertiup.

Pasir Berbisik di pagi hari sangat fantastis.

Di samping jip, sepeda motor malang melintang di setiap pelosok daerah ini. Sepeda motor diperbolehkan melintasi pasir laut dengan risiko mereka sendiri. Saya melihat banyak terperangkap di pasir. Penumpang dan pengemudi harus mendorongnya ke area yang padat. Selain itu mereka terpampang dengan pasir yang masuk sampai ke mulut, mata atau pakaian. Meski begitu sepeda motor ada di mana-mana.

Kami melaju dan berhenti beberapa kali di sekitar bukit pasir di Pasir Berbisik.

 

tiarapermata@bromomalang

 

tiarapermata@bromomalang

 

tiarapermata@bromomalang

 

tiarapermata@bromomalang

 

tiarapermata@bromomalang

 

tiarapermata@bromomalang

 

tiarapermata@bromomalang

I was not sure if the vehicle had enough seat or not. But I know for sure the passengers on top definitely eat and inhale sands.

 

tiarapermata@bromomalang

 

TELETUBI SAVANNA

Awalnya saya pikir akan ada beberapa rumah mini Teletubbies di sekitar bukit. Namun nama itu berasal dari kontur bukit. Seperti Bukit Teletubbies di salah satu seri pendidikan anak-anak.

Kami menikmati pemandangan beberapa saat di sana. Melintasi padang rumput hijau dan tinggi. Senang melintasi tempat yang indah dan asri ini. Apalagi dengan langit biru dan tanah yang menghijau. Begitu matahari tinggi dan tempat itu menjadi ramai kami kembali ke Desa Tosari. Keputusan tepat karena kami melihat di kejauhan kabut tebal turun dan menyelimuti  Pasir Berbisik dan kawah Bromo.

 

tiarapermata@bromomalang

 

tiarapermata@bromomalang

 

tiarapermata@bromomalang

 

tiarapermata@bromomalang

 

tiarapermata@bromomalang

 

tiarapermata@bromomalang

 

tiarapermata@bromomalang

 

tiarapermata@bromomalang

 

tiarapermata@bromomalang

 

tiarapermata@bromomalang

 

tiarapermata@bromomalang

Before we returned to the Tosari Village, we stopped at the lookout on top of the hill. Overlook Mount Batok (front) Mount Bromo (middle and smoky) and Mount Merapi (far back).

 

tiarapermata@bromomalang

Itsy bits tiny jeep’s roof from far.

 

tiarapermata@bromomalang

See that fog??.

 

tiarapermata@bromomalang

Time to go!!.

 

tiarapermata@bromomalang

 

tiarapermata@bromomalang

 

tiarapermata@bromomalang

 

Catatan:

Kami mengunjungi Gunung Bromo pada bulan Juli 2018. Dua bulan kemudian saya membaca berita terjadi kebakaran besar di Bukit Teletubbies. Padang rumput terbakar dari 1 – 3 September 2018. Kondisi rumput kering, angin kencang dan tanah berbukit menyebabkan api sulit dipadamkan.

 

 

 

Facebook Comments

Pos ini juga tersedia dalam bahasa: English