Yogyakarta

KUIL BUDDHA TERBESAR DI DUNIA: CANDI BOROBUDUR

Siapa yang tidak tahu tentang Bali?

Saya bertemu banyak orang asing yang menganggap Bali dan Indonesia adalah negara yang berbeda. Nah, siapa yang bisa menyalahkan mereka karena Bali lebih populer daripada Indonesia. Demikian juga saya belum pernah bertemu orang yang tahu tentang Borobudur. Apalagi mengenal Yogyakarta atau Candi Prambanan.

Itu sebabnya saya terkejut ketika sekelompok wisatawan dari Afrika Selatan mengatakan bahwa mereka pergi ke Borobudur. Belum pernah orang asing bertanya kepada saya atau bercerita tentang candi megah ini. Tidak itu saja, mereka juga melakukan perjalanan darat ke beberapa kota di sekitar Jawa Tengah.

Terakhir kali saya pergi ke Candi Borobudur ketika keluarga kami bergabung dengan grup tur dari kantor papa. Saat itu saya masih berumur 7 tahun. Beberapa dekade kemudian saya mengunjungi kembali Borobudur bersama saudara perempuan.

Kami menyewa mobil dan berkendara dari Yogyakarta.

 

tiarapermata@borobuduryogyakarta

 

tiarapermata@borobuduryogyakarta

Hot…hot…hot. I saw so many people, especially elderly did not go further. They sit at the front gate waited their group.

 

tiarapermata@borobuduryogyakarta

 

tiarapermata@borobuduryogyakarta

 

tiarapermata@borobuduryogyakarta

 

tiarapermata@borobuduryogyakarta

 

tiarapermata@borobuduryogyakarta

 

tiarapermata@borobuduryogyakarta

 

tiarapermata@borobuduryogyakarta

 

tiarapermata@borobuduryogyakarta

 

tiarapermata@borobuduryogyakarta

 

tiarapermata@borobuduryogyakarta

 

tiarapermata@borobuduryogyakarta

 

Borobudur adalah kompleks candi Budha terbesar yang berasal dari abad ke-8. Selain Situs Warisan Dunia UNESCO, Borobudur menempati urutan sebagai salah satu ikon budaya terbesar di Asia Tenggara.

Borobudur terletak di dataran vulkanik yang sangat subur di antara gunung-gunung kembar Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro di barat, dan Gunung Merbabu dan Gunung Merapi di timur. Akibat letusan Gunung Merapi tahun 2010, Borobudur rusak dengan abu vulkanik yang jatuh di kompleks candi. Tingkat atas ditutup untuk umum hingga September 2011.

Terik panas matahari menyengat.

Kami menyewa payung dari vendor di dalam kompleks. Vendor di luar kompleks atau di sekitar tempat parkir memberitahu kami bahwa ini adalah kesempatan terakhir untuk menyewa payung. Mereka ternyata berbohong. Kami menyewa dari vendor di dalam kompleks dengan setengah harga. Payung besar dengan warna sama.

Kami berjalan perlahan untuk mencapai tangga teratas. Untungnya banyak pengunjung yang tidak sampai ke atas, sehingga kami memiliki banyak kesempatan untuk mengambil banyak foto. Sinar matahari yang menyengat di imbangi dengan langit biru. Latar belakang yang sempurna untuk stupa abu-abu dan hitam.

Kami berjalan selama dua jam berkeliling candi. Pada satu kesempatan kami mencari stupa dimana pengunjung diperkenankan untuk menyentuh patung Budha di dalamnya. Sayang, menurut petugas keamanan, tidak diperkenankan lagi karena pengunjung merusak batu penyangga stupa.

Kemudian kami mendiskusikan hal-hal di sekitar Borobudur dengan petugas. Dia menyarankan untuk datang sebelum matahari terbit. Meski karcis masuk mahal, pengunjung dapat menikmati matahari terbit yang mempesona. Dia menunjukkan foto yang fantastis seperti hasil jepretan fotografer profesional meski hanya dari smartphone.

Tak lama kami kembali ke mobil dan meluncur ke Kota Yogyakarta.

 

tiarapermata@borobuduryogyakarta

 

tiarapermata@borobuduryogyakarta

 

tiarapermata@borobuduryogyakarta

 

tiarapermata@borobuduryogyakarta

 

tiarapermata@borobuduryogyakarta

 

tiarapermata@borobuduryogyakarta

 

tiarapermata@borobuduryogyakarta

 

tiarapermata@borobuduryogyakarta

 

tiarapermata@borobuduryogyakarta

 

tiarapermata@borobuduryogyakarta

 

tiarapermata@borobuduryogyakarta

 

tiarapermata@borobuduryogyakarta

 

 

 

 

 

 

Facebook Comments

Pos ini juga tersedia dalam bahasa: English