Jalan-jalan, Yogyakarta

MENELUSURI SEJARAH KUNO KOTAGEDE

Yogyakarta memiliki transportasi umum yang paling mudah untuk dinavigasi.

Saya tinggal selama satu bulan dan menikmati waktu yang menyenangkan. Awalnya saya pikir harus menyewa sepeda motor. Tapi akhirnya lebih banyak menggunakan Transjogja (bus umum) pergi ke mana-mana. Sisanya saya berjalan dari satu tempat ke tempat lain.

Pada minggu terakhir, adik perempuan bergabung dan menghabiskan seminggu bersama saya. Hari ini rencana kami mengunjungi Kotagede.

Tujuan wisata ini cukup mudah diakses karena sangat dekat dengan pusat kota. Pengunjung dapat menggunakan berbagai kendaraan seperti transjogja, taksi, becak (= becak) atau menggunakan kendaraan pribadi.

Kami naik Transjogja dari jalan Kaliurang dekat Universitas Gajah Mada. Kemudian transfer ke bus lain di rute menuju Kota Gede. Kota tua berjarak sekitar 6 kilometer dari pusat kota Jogja atau sekitar 15 menit.

 

Sejarah Kotagede

Pada abad ke-8 Yogyakarta menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Mataram. Selama masa kejayaannya, hampir seluruh Jawa berada di tangan Mataram Hindu.

Kerajaan makmur dengan peradaban yang luar biasa. Salah satu buktinya adalah Candi Prambanan dan Candi Borobudur. Tapi untuk alasan yang tidak diketahui sampai sekarang, sekitar abad ke 10 kerajaan pindah ke Jawa Timur. Penduduk berduyun-duyun ke Mataram sampai akhirnya tidak ada yang tertinggal. Wilayah terabaikan dan menjadi hutan.

Sekitar enam abad kemudian, Sultan Hadiwijaya yang berkuasa di Jawa menghadiahkan Alas Mentaok (alas = hutan) kepada Ki Gede Pemanahan setelah menaklukkan musuh kerajaan. Hutan ini adalah bekas kerajaan Hindu Mataram. Ki Gede Pemanahan membangun desa kecil dan kemudian tumbuh lebih besar.

Kemudian Ki Gede Pemanahan digantikan oleh Senapati Gede Pemanahan. Senapati Gede Pemanahan meninggal dan digantikan dengan putranya bernama Ingalaga Senapati. Di bawah kepemimpinan Senapati desa berkembang menjadi kota yang makmur.

Kota ini kemudian disebut sebagai Kotagede (= kota besar). Senapati membangun sebuah benteng yang berisi istana dan benteng di luar area kota luasnya sekitar 200 ha.

 

Pesona Kotagede

Terakhir kali mengunjungi Kotagede ketika saya mahasiswi. Tidak ada transportasi umum seperti Transjogja. Oleh karena itu ketika adik perempuan dan saya tiba di halte bus, kami sedikit bingung. Tidak tahu kemana kami harus pergi.

Saya ingin berjalan kaki ke tempat wisata di sekitar Kotagede. Tetapi karena cuaca panas, kami memutuskan untuk naik bektor (becak dengan sepeda motor) beberapa kilometer dari halte bus.

Sebelum kami menjelajahi Kotagede, kami mengisi perut. Kami meminta tukang becak untuk menurunkan kami di pusat Kotagede.

Sepanjang jalan ke restoran kami melihat berbagai bangunan kuno dengan gaya arsitektur yang unik yang masih dipertahankan hingga saat ini. Sejarah panjang Kotagede membuat daerah ini erat dengan peninggalan masa lalu. Bangunan dengan berbagai gaya mulai dari arsitektur Belanda, tradisional Jawa hingga Hindu Mataram.

 

Berburu Kerajinan Perak

Sopir becak menurunkan kami di penjual makanan soto ayam. Lega berlindung di tempat teduh ketika matahari panas terik.

Kemudian kami memanggil becak untuk membawa kami ke tempat-tempat penting di Kotagede.

Adik saya ingin membeli kalung. Kebanyakan toko-toko seni di jalan utama cukup mahal sehingga pengemudi becak menawarkan untuk membawa kami ke toko kerajinan perak lainnya.

Kotagede dikenal sebagai The Silver City. Kerajinan perak Kotagede tumbuh sejak berdirinya Kotagede sebagai ibu kota Mataram.

Sepanjang jalan Kotagede dipenuhi dengan toko-toko souvenir yang menjual produk-produk perak. Kerajinan dengan berbagai bentuk perhiasan, desain rumah tangga seperti teko, gelas, dan dekorasi kamar. Hias Kotagede ditandai dengan motif bunga yang didasarkan pada tradisi Hindu dan hanya menggunakan tenaga kerja manual.

Pengemudi becak mengajak kami melewati beberapa gang. Kami surprise karena workshop masih menggunakan cara lama untuk menghasilkan kerajinan. Adik saya membeli kalung yang jauh lebih murah dibandingkan dengan toko-toko seni yang kami kunjungi sebelumnya.

Kemudian supir becak menurunkan kami di depan tanda ‘Makam Raja-raja Mataram’. Pertama kami mengunjungi Makam Raja Mataram, kemudian Masjid Agung Kotagede dan yang terakhir adalah Pemukiman Tradisional Jawa.

 

tiarapermata@kotagedejogja

 

tiarapermata@kotagedejogja

 

tiarapermata@kotagedejogja

 

tiarapermata@kotagedejogja

Old fashion silver craftsman.

 

Makam Raja-Raja Mataram

Tempat peristirahatan terakhir untuk Panembahan Senopati, Ki Gede Pemanahan dan Sultan Hadiwijaya. Sekitar 100 meter dari Pasar Kotagede.

Makam ini dikelilingi oleh tembok besar kokoh dan indah. Ukirannya mengingatkan saya pada ukiran Bali.

Untuk memasuki pemakaman, pengunjung melewati tiga gerbang dengan arsitektur khas Hindu. Gerbang dilengkapi pintu kayu kokoh dengan ukiran yang indah.

Kami tidak masuk ke pemakaman karena pengunjung diwajibkan mengenakan pakaian tradisional Jawa. Pakaian bisa disewa di visitor center. Selain itu pengunjung dilarang mengambil gambar dan memakai perhiasan yang terbuat dari emas.

Kami berdiri di dekat visitor center dan mengawasi orang-orang di sekitar. Tidak banyak yang terjadi. Saya melihat banyak pengunjung yang duduk di sekitar joglo atau dekat vistor center. Mungkin mereka menunggu giliran. Suasana di makam sangat tenang dan sakral. Saya meringis ketika menekan tombol kamera. Suara terlalu keras untuk tempat yang tenang dan muram ini.

 

tiarapermata@kotagedejogja

 

tiarapermata@kotagedejogja

 

tiarapermata@kotagedejogja

 

tiarapermata@kotagedejogja

 

tiarapermata@kotagedejogja

 

tiarapermata@kotagedejogja

 

tiarapermata@kotagedejogja

 

Masjid Agung Kotagede

Kami tidak menghabiskan terlalu banyak waktu di pemakaman raja. Perlahan melangkah keluar dan berjalan ke tempat lain. Ketika menikmati keindahan situs ini, kami menyadari bahwa tidak ada banyak pengunjung. Karena itu suasana di sekitar makam tenang.

Apalagi ketika kami mengunjungi Masjid Agung Kotagede.

Di banyak masjid yang saya kunjungi, biasanya banyak orang sedang sembahyang, duduk dan bahkan berbaring. Tetapi pada saat itu suasana hening dan bagian dalamnya gelap.

Masjid Agung Kotagede berada di dalam Makam Raja-Raja Mataram. Warisan Kerajaan Mataram Islam yang sarat dengan nilai sejarah.

Kami hanya melihat bagian luar dan mengambil beberapa foto sebelum beranjak pergi.

 

tiarapermata@kotagedejogja

The quietest mosque I ever visited. We whispered and tiptoed while walking around it.

 

 

tiarapermata@kotagedejogja

 

tiarapermata@kotagedejogja

 

Permukiman Tradisional Jawa

Kami meninggalkan Makam Raja-raja dan area Masjid Agung. Perhentian terakhir adalah pemukiman tradisional jawa yang tidak jauh dari makam kerajaan.

Ketika saya mencari tahu lokasi tempat wisata di Kotagede, saya menemukan sebuah artikel tentang bangunan tua. Salah satu bangunan rumah memiliki warna dinding hijau yang mencolok. Tetapi setelah menanyakan ke tukang becak, pejalan kaki bahkan penduduk setempat mereka tidak tahu di mana letaknya. Aneh.

Kemudian pilihan kedua adalah permukiman tradisional Jawa. Jaraknya kurang dari 100 meter dari Makam Raja-Raja.

Kami melewati gerbang sempit dan pendek.

Kemudian kami disuguhi rumah-rumah tua yang rapi dan terawat baik. Area pemukiman ini saling berhadapan membentuk gang atau jalan kecil. Tidak ada orang yang lewat. Meskipun rumah tua masih berfungsi sebagai tempat tinggal, kami tidak menemukan penghuninya. Kami berbisik dan mengendap-endap ketika melewati setiap rumah.

Saya baru tahu bahwa daerah pemukiman ini disebut “Between Two Gates” atau “Antara Dua Gerbang”. Karena gang atau jalan kecil diapit oleh gerbang di kedua ujungnya. Pemukiman ini sudah ada sejak 1840. Sebelumnya sebagai alun-alun. Seiring waktu, alun-alun di era kerajaan Mataram Islam tumbuh menjadi pemukiman.

 

tiarapermata@kotagedejogja

 

tiarapermata@kotagedejogja

 

tiarapermata@kotagedejogja

 

tiarapermata@kotagedejogja

 

tiarapermata@kotagedejogja

 

tiarapermata@kotagedejogja

 

tiarapermata@kotagedejogja

 

tiarapermata@kotagedejogja

 

tiarapermata@kotagedejogja

 

tiarapermata@kotagedejogja

 

 

 

Facebook Comments

Pos ini juga tersedia dalam bahasa: English