Jalan-jalan, Yogyakarta

ISTANA SANG RAJA KERATON NGAYOGYAKARTA

Saya turun dari bus Trans Jogja di halte bus di depan Fort Vredeburg Museum.

Ada beberapa pilihan untuk mencapai istana kesultanan. Entah dengan naik becak/bektor (=becak dengan motor) atau berjalan.

Saya memilih berjalan dari jalan Malioboro ke Keraton Yogyakarta. Jaraknya kelihatan dekat dengan peta di handphone. Seorang ibu yang baik yang saya temui di bus juga menyarankan untuk berjalan.

Meskipun hari masih pagi matahari sudah terik.  Saya sudah kelelahan setelah 5 menit berjalan. Namun saya tetap berjalan dengan harapan bahwa begitu berada di dalam Keraton, saya bisa berjalan di antara tempat teduh dan bangunan

Keraton Yogyakarta adalah kompleks istana yang terletak di kota Yogyakarta.

Keraton tempat tinggal keluarga kerajaan di istana. Kependekan dari kata ratu/Ka-ratuan yang berasal dari kata Ratu, yang dalam Bahasa Indonesia berarti raja. Keraton adalah istana yang mengandung makna agama, filosofis dan budaya.

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

Official seat of the reigning Sultan of Yogyakarta and his family.

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

Regol Donopratomo which connects the Sri Manganti courtyard with the palace’s core courtyard, guarded by two Dwarapala statues named Cingkarabala and Balaupata. The statues symbolize the good human personality, who always uses his conscience to always do good and forbid evil deeds.

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

In the Yogyakarta Palace complex every day a free art performance is held starting at 09.00 or 10:00 WIB. The show changes every day from the Macapatan nembang, traditional dance, puppet show, shadow puppets, and gamelan.

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

Pada tahun 1755, perjanjian Giyanti membagi kerajaan Mataram menjadi Kesultanan Surakarta di bawah pemerintahan Sunan Pakubuwono III dan Kesultanan Ngayogyakarta di bawah pemerintahan Pangeran Mangkubumi yang kemudian menjadi Sultan Hamengkubuwono I.

Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang lebih dikenal sebagai Keraton Yogyakarta pusat perkembangan budaya Jawa.

Hingga saat ini Keraton Yogyakarta masih menjadi tempat tinggal Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X bersama keluarganya.

Keraton Yogyakarta luas 14.000 meter persegi. Di dalamnya terdapat banyak gedung, pekarangan dan tanah lapang. Halaman depan Istana sejajar dengan Alun-Alun Utara Yogyakarta dan halaman belakang Istana sejajar dengan Alun-Alun Selatan Yogyakarta.

Hutan beringin yang bebas banjir dipilih sebagai tempat untuk istana baru. Kompleks istana terletak di antara Sungai Code dan Sungai Winanga, dari utara ke selatan.

Setelah penandatanganan Perjanjian Giyanti Sultan Hamengkubuwono I membangun Kesultanan Yogyakarta antara 1755 dan 1756. Selain Sultan pertama, Sultan Hamengkubuwono I, juga kepala arsitek istana ini.

Begitu banyak hal menarik ketika mengunjungi Keraton Sultan, mulai dari bangunan megah dengan nuansa Jawa, berbagai koleksi raja dan keluarganya, seni pertunjukan hingga kehidupan para abdi dalem.

Setiap kompleks utama terdiri dari sebuah halaman yang tertutup pasir dari pantai selatan

Di setiap kompleks ada bangunan yang disebut Joglo. Jika tanpa dinding, bangunan itu disebut Bangsal. Sedangkan joglo di dengan dinding disebut Gedhong (bangunan).

Beberapa ornamen dengan motif flora, fauna atau alam sering ditemukan dalam karya arsitektur ini. Di beberapa bagian dapat dilihat sentuhan dari budaya asing seperti Portugis, Belanda, bahkan Tiongkok.

Tiang-tiang bangunan biasanya berwarna hijau gelap atau hitam dengan ornamen kuning, hijau muda, merah, dan emas atau lainnya. Bagian bangunan lain yang terbuat dari kayu memiliki warna yang senada dengan warna pada tiang. Lantai biasanya terbuat dari marmer putih atau dari ubin berpola dan lebih tinggi dari halaman berpasir.

Bangunan yang digunakan Sultan memiliki lebih banyak detail ornamen yang lebih rumit dan indah daripada kelas di bawahnya. Kelas bawah bangunan memiliki ornamen sederhana atau bahkan tidak ada sama sekali.

Selain ornamen, bangunan bisa dilihat dari material maupun bentuk bagian atau keseluruhan bangunan itu sendiri.

Di kompleks Keraton Yogyakarta ada berbagai ruang pamer benda-benda kuno. Benda-benda kuno disimpan dalam lemari kaca seperti keramik, lukisan, miniatur atau replika, foto, senjata dan benda-benda pribadi raja.

Showroom lainnya adalah Museum Batik yang diresmikan oleh Sri Sultan HB X pada tahun 2005. Sesuai dengan namanya, museum ini dipenuhi dengan koleksi batik dan peralatan yang digunakan dalam batik selama kepemimpinan Sultan HB VIII sampai Sultan HB X. Di dalam museum ada juga benda-benda yang merupakan hadiah dan donasi dari sejumlah pengusaha batik di Yogyakarta dan dari daerah lain.

Menariknya di dalam museum ada sumur kuno penuh dengan uang (koin dan kertas). Akan tetapi sumur tua tersebut ditutup kasa aluminium dengan plakat “pengunjung dilarang melempar uang”.

Banyak peninggalan di istana menyimpan cerita sejarah yang berguna untuk tujuan penelitian. Selain itu sebagai sumber pengetahuan bagi generasi selanjutnya.

Selain menyaksikan koleksi benda-benda milik keluarga kerajaan, wisatawan yang mengunjungi Kraton Yogyakarta juga dapat menyaksikan berbagai pertunjukan seni seperti macapat (tembang atau puisi tradisional Jawa), gamelan, wayang orang, wayang kulit, dan tari Serimpi yang diadakan di Bangsal Manganti.

Upacara tradisional secara rutin dilakukan untuk melestarikan budaya leluhur seperti memandikan pusaka kerajaan dan gerobak. Demikian pula diadakan Garebeg atau Grebeg. Upacara berkala diadakan masyarakat Jawa untuk memperingati suatu peristiwa penting seperti Grebeg Maulud.

Saya tidak berencana untuk pergi ke tempat lain setelah kunjungan ke Istana. Teorinya pengunjung dapat mengitari keraton paling tidak antara 2-3 jam. Namun, saya lebih suka berjalan dari satu bangunan ke yang lain secara perlahan. Terkadang saya kembali ke tempat yang sama, hanya untuk mengambil beberapa foto.

Setelah berjalan sepanjang hari saya ingin duduk, santai dan membeli sebotol air. Kebetulan ketika saya menuju ke halte bus, saya melewati penjual kelapa muda. Sungguh melegakan bagi tubuh yang lelah untuk duduk di bawah pohon beringin ditemani oleh kelapa muda yang segar dan dingin. Saya menikmati waktu saya sambil menonton turis lewat dan orang-orang lokal menjalani kehidupan sehari-hari.

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

tiarapermata@keratonyogyakarta

 

 

Facebook Comments

Pos ini juga tersedia dalam bahasa: English