Yogyakarta

JALAN KAKI DARI JALAN KALIURANG KE MALIOBORO YOGYAKARTA

Saya sangat senang ketika akhirnya tiba di Yogyakarta kemarin.

Saya tidak sabar untuk menjelajahi kota. Saking girangnya saya memutuskan untuk berjalan dari Jalan Kaliurang ke Malioboro. Ngomong-ngomong saya menyewa kamar selama sebulan di dekat Universitas Gajah Mada. Selain dekat dengan halte bus, Jalan Kaliurang dikelilingi oleh restoran-restoran murah.

Saya berjalan melewati Universitas Gadjah Mada. Menurut Google Map, saya berjalan lurus dari Jalan Kaliurang ke Malioboro. Jalan-jalan di Yogyakarta tidak serumit kampung halaman Malang. Tidak banyak jalan memutar.

 

tiarapermata@kaliurangmalioboro

Gajah Mada University.

 

tiarapermata@kaliurangmalioboro

Kali Code (Code river) – Divides Yogyakarta into two. Historically the original establishment of the Mataram Kingdom in Yogyakarta.

 

tiarapermata@kaliurangmalioboro

 

 

tiarapermata@kaliurangmalioboro

The Tugu monument located at the intersection of Jenderal Sudirman Street and Margo Utomo Road. It has symbolic value that connecting the southern sea, Yogyakarta palace and Merapi mountain. From the Yogyakarta palace to Tugu Yogyakarta form a straight line to the top of Mount Merapi.

 

tiarapermata@kaliurangmalioboro

One of the graffiti around Jalan Malioboro.

 

tiarapermata@kaliurangmalioboro

 

Yogyakarta sangat mudah dinavigasi.

Malioboro adalah nama jalan yang telah ada sejak abad ke-19. Kolonial Hindia Belanda membangun Malioboro sebagai pusat kota Yogyakarta. Sebagai pusat pemerintahan dan kegiatan ekonomi.

Ada beberapa versi dari mana nama Malioboro berasal. Salah satu versi adalah nama seorang anggota kolonial Inggris bernama Marlborough. Ia menduduki Yogyakarta pada tahun 1811 – 1816 Masehi. Bahkan orang mengatakan nama itu berasal dari billboard merek rokok yang pernah berdiri di tempat itu.

Pusat distrik wisata terbesar di Yogyakarta. Dikelilingi oleh banyak hotel, restoran, dan toko-toko di dekatnya. Trotoar di kedua sisi jalan penuh sesak dengan kios kecil. Penjual menjajakan berbagai souvenir dari gantungan kunci, t-shirt hingga makanan.

Untung saya mengunjungi ketika tahun sekolah masih berlangsung. Tapi saya masih melihat bus dengan para siswa keluar dari hotel di pagi hari.

Saya berjalan sekitar satu jam (5 km). Sebagai latihan untuk melatih kaki saya, karena saya akan banyak berjalan ketika mengunjungi Mesir, Israel, dan Yordania.

Kolonial Belanda yang membangun Malioboro juga dimaksudkan untuk menyaingi kemegahan Istana Yogyakarta.

Pemerintah Kolonial Belanda juga mendirikan Benteng Vredeburg, yang didirikan pada tahun 1765. Dulu ada barak militer Belanda, kini benteng itu dikenang sebagai pusat pameran seni dan lukis.

The Colonial Residency Palace didirikan pada tahun 1832. Sekarang Istana Utama Presiden.

 

tiarapermata@kaliurangmalioboro

 

tiarapermata@kaliurangmalioboro

 

tiarapermata@kaliurangmalioboro

 

tiarapermata@kaliurangmalioboro

 

tiarapermata@kaliurangmalioboro

 

tiarapermata@kaliurangmalioboro

 

tiarapermata@kaliurangmalioboro

 

tiarapermata@kaliurangmalioboro

 

Pasar Beringharjo

Pasar tertua di Yogyakarta. Menjadi objek wisata yang sangat terkenal. Wisatawan selalu menyerbu pasar untuk membeli berbagai jenis souvenir. Mereka berbelanja berbagai jenis batik, t-shirt, aksesoris dan barang-barang lainnya. Mereka juga menikmati makanan khas Jogja di depan pasar ini.

Di tengah hiruk-pikuk pasar, di satu bagian (pojok) ada banyak warung makan. Pada awalnya, saya suka membeli makanan di depan pasar. Tapi karena saya tahu tempat ini, saya lebih suka di sini. Bagian lebih besar, enak dan nyaman.

Warung seperti ini lebih banyak dikunjungi oleh penduduk setempat.

Kegiatan wisata di Malioboro tidak hanya di siang hari. Jalan-jalan menjadi hidup dengan pedagang yang menjual semua jenis masakan lokal di malam hari. Pelanggan harus duduk bersila (lesehan) untuk menikmati makan malam mereka.

Kios muncul terutama setelah jam 9 malam. Vendor tidak menawarkan kursi, pelanggan harus duduk bersila (lesehan). Sambil menikmati makan malam mereka, para pelanggan dihibur oleh para musisi jalanan.

 

tiarapermata@kaliurangmalioboro

 

tiarapermata@kaliurangmalioboro

 

tiarapermata@kaliurangmalioboro

 

tiarapermata@kaliurangmalioboro

 

tiarapermata@kaliurangmalioboro

 

tiarapermata@kaliurangmalioboro

 

Kampoeng Ketandan

Ketika saya berjalan ke Pasar Beringharjo, perjalanan saya dihentikan oleh seorang tukang becak. Dia membahas harga dengan calon penumpang. Sambil menunggu, saya melihat ke atas dan melihat gerbang kokoh dari  kayu berwarna merah menyala.

Gerbang raksasa berwarna merah menarik perhatian saya.

Saya memasuki jalan dan menjauh dari kesibukan Jalan Malioboro.

Kampoeng Ketandan berkembang menjadi Pecinan. Dimulai dengan kepindahan Kapten Tan Djin Sing dari Kedu ke Yogyakarta pada tahun 1803. Pecinan dapat dikatakan sebagai salah satu poin penting bagi perekonomian Yogyakarta. Khususnya di Jalan Malioboro.

Bentuk bangunannya juga memiliki ciri khas Cina. Sejarah mencatat keberadaan etnis Tionghoa di Jogja. Itu ada sejak masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono VII sekitar abad ke-19.

Saya berjalan keluar dan mencoba melangkah lebih jauh, tetapi kaki saya mulai protes. Rupanya latihan saya terlalu ambisius. Saya berhenti di halte bus terdekat dan naik bus kembali ke rumah penginapan saya.

 

tiarapermata@kaliurangmaliboro

 

tiarapermata@kaliurangmaliboro

 

tiarapermata@kaliurangmaliboro

 

tiarapermata@kaliurangmaliboro

 

tiarapermata@kaliurangmaliboro

 

tiarapermata@kaliurangmaliboro

 

Facebook Comments

Pos ini juga tersedia dalam bahasa: English