Bahamas, Bekerja di Luar Negeri

PENGALAMAN BURUK DI NASSAU

Traveling seharusnya saat rileks setelah stres kerja yang gila.

**cerita lama ketika bekerja dan tinggal di luar negeri**

Meskipun demikian, saya menciptakan mimpi buruk saya sendiri selama perjalanan.

Visa AS saya berakhir pada tahun 2010 dan harus segera diperbaharui. Kedutaan AS terdekat di Nassau, Bahamas. Saya mengirim email ke Imigrasi Bahama apakah saya perlu mengajukan visa untuk memasuki negara mereka. Jawaban mereka sebenarnya sudah jelas, saya harus mengajukan permohonan untuk mengurus visa.

Saya ragu karena beberapa teman pergi ke sana tanpa visa. Saya mencari tahu lebih jauh. Saya mendapat konfirmasi yang meyakinkan bahwa teman tidak mempunyai visa ketika tinggal beberapa hari saja.

Dengan yakin saya membuat janji di kedutaan AS di Nassau. Saya memesan tiket dan akomodasi. Semakin bersemangat untuk pergi meski hanya beberapa hari.  Sampai menjelang keberangkatan semuanya berjalan dengan lancar.

Bos saya menawarkan sepupunya untuk menjadi pemandu saat berada di Nassau.  Tentu saya dengan senang hati menerimanya. Rilek dan menikmati kunjungan singkat.

Akhirnya hari keberangkatan tiba.

Saya naik kapal pagi ke Provo. Tidak lama saya antri di depan loket check in.

 

tiarapermata@nassaubahamas

Morning boat on the way to main island.

 

tiarapermata@nassaubahamas

Small island near Provo Marina.

 

NO Visa = No Boarding Pass

Setelah mendapat sinyal untuk mendekati ke check in counter, saya memberi tiket dan paspor ke staf check-in.

“Anda punya visa?” tanyanya sambil memasukkan informasi saya di komputer.

“Tidak. Saya hanya tinggal selama beberapa hari dan kembali “.

Dia tidak mengatakan apa-apa dan terus mengetik, “Tidak bisa, Anda harus memiliki visa untuk masuk Nassau. Di sini dinyatakan bahwa orang Indonesia harus memegang visa. “

Tiba-tiba saya merasa perut mulas dan kepala berputar.

“Saya tidak tahu bahwa saya membutuhkan visa untuk masuk ke Bahamas. Teman-teman mengatakan bahwa saya tidak memerlukan visa “

“Anda tidak perlu visa jika Anda transit untuk penerbangan berikutnya. Itu saja hanya 3 hari. Sementara itu anda akan tinggal 5 hari ‘.

“Huh … saya tidak tahu itu”. Saya benar-benar bodoh. Dia tahu itu.

“Bener, kamu perlu visa,” tegasnya.

Saya tidak mampu mengatakan apapun. Dia terus mengetik di komputer. Dia berbicara dengan salah satu teman dan keduanya melihat layar komputer. Saya rasanya mau nangis dan tidak mampu menenangkan diri. 

Perjalanan ke Nassau ini menjadi mimpi buruk karena ketidak perdulian saya.

Saya sedang berpikir apa yang akan saya lakukan selanjutnya saat seorang ibu dan anak perempuannya (sekitar 10 tahun) datang ke meja kerja.

“Hi girl,” dia tersenyum dan menyapa wanita di meja cek in.

“Apa kabar?”. Mereka mengobrol ngalor-ngidur.

Wanita itu terus mengetik di komputernya (mungkin dia mencoba menolong saya), ketika sang ibu menatap dan tersenyum kepada saya “Dan kemana kamu pergi?”

“Nassau”. Saya mencoba tersenyum meski tidak yakin apakah bisa pergi atau tidak.

“Oh bagus. Saya perlu seseorang untuk menemani putriku menemui ayahnya di Nassau. Apakah kamu tidak keberatan menemaninya “.

“Oh, tentu kenapa tidak”. Seolah saya akan pergi.

“Clarice (alias) apakah kamu tidak berkeberatan jika mereka duduk bersama”.

Saya tidak mengikuti pembicaraan mereka selanjutnya karena pikiran saya kosong. Saya mencari cara untuk memberikan penjelasan kepada atasan setelah bekerja sangat keras untuk mendapatkan persetujuan mereka. Tentu mereka bakal tidak paham mengapa saya mengabaikan pentingnya visa (padahal saya ke Nassau untuk memperbaharui visa).

Apalagi semuanya sudah dibayar penuh. Saya tidak bisa refund tiket, akomodasi, biaya visa dan biaya lainnya.

Tiba-tiba Clarice memberi boarding pass, tiket dan paspor. Saya kaget dan masih memandangi  boarding pass di tangan ketika dia menjelaskan gerbang dan jam boarding.

Si ibu mengucapkan selamat tinggal pada kami berdua dan kami memasuki ruang tunggu. Jantung saya berdegup kencang dan tidak bisa konsentrasi pada apapun yang terjadi di sekeliling. Petugas di meja XRay harus mengulang permintaannya sampai beberapa kali.

Singkat cerita, akhirnya kami mendarat di Nassau, Bahama dan antri di loket imigrasi. Ketika saya maju ke meja imigrasi, Janelle (alias) mengikuti saya. Dia tidak menunggu gilirannya.

Petugas meminta visa saya dan saya mengelengkan kepala dan mengatakan tidak ada. Tanpa mengatakan apapun dia menggiring kami ke kantor imigrasi.

Saya ketakutan.

Meskipun demikian, saya harus memikirkan Janelle. Saya merasa bertanggung jawab. Bahkan dalam situasi sulit seperti ini, saya harus melakukan hal yang benar dengan tidak membawa Janella ke kantor. Saya tidak ingin dia mendengar semua konfrontasi. Juga ayahnya mungkin sudah menunggu di luar. Bisa-bisa dia kuatir ketika Janella tidak keluar.

“Apakah ayahmu menunggumu di luar?. Kamu bisa pergi ke jika mau.” Dia menggelengkan kepalanya dan ikut ke kantor.

Petugas membawa paspor saya ke atasannya dan meminta saya untuk menunggu di luar. Sebelum memasuki kantor, seorang wanita yang duduk di meja tengah dengan mata marah menatap saya.

“Apa masalahnya?” tanyanya kepada petugas yang mengantar saya.

“Tidak ada visa ‘. Katanya tanpa melihat ke wanita itu.

Dia menggelengkan kepala dan kembali bekerja. Tidak lama kemudian petugas menghampiri saya dan menyuruh untuk menunggu.

Lalu seorang petugas yang sudah tua keluar “Ada masalah apa?”.

“Halo Officer” saya berusaha keras untuk tidak terlihat memelas dan ketakutan.

“Apa yang terjadi?”

“Saya tidak punya visa. Sebelumnya saya tidak tahu bahwa harus punya visa untuk masuk Nassau. Mohon maaf sebesar-besarnya”.

“Kamu tahu bahwa harus memiliki visa?”

“Saya baru tahu hari ini”.

“Apa tujuan kamu untuk berkunjung?”

“Saya akan mengajukan visa AS”.

“Berikan dokumenmu,” sementara dia menarik sebuah kursi.

Saya memberikan semua surat-surat. Sementara dia memeriksa, saya memberi tahu Janelle untuk menelepon ayahnya. Dia tidak memiliki ponsel jadi saya meminjaminya. Petugas melihat itu dan dia bertanya padanya.

 

Dimana Ayahmu?

“Apa yang kau lakukan di sini gadis kecil?”

“Saya datang untuk mengunjungi ayah saya.” Dia menatapnya dengan mata yang memelas.

“Anda kenal dia?”. Petugas menunjuk ke saya dan Janelle menggelengkan kepalanya.

“Tidak pak. Saya bertemu dengannya dengan ibunya di bandara. Ibunya meminta menemani putrinya.” jelas saya terbata-bata

Dia menatap saya dengan pandangan yang menyelidik dan bertanya pada Janelle,” Jadi di mana ayahmu sekarang?”

“Saya tidak tahu.”

“Ibunya mengatakan kepada saya bahwa dia akan menunggu di luar.”saya menjelaskan kepada petugas tersebut. Dia menatap saya beberapa saat.

Woopss…tiba-tiba saya merasa dingin dan pusing. Saya tidak berpikir sebelumnya bahwa saya bisa memiliki masalah dengan pihak berwenang karena membawa  anak di bawah umur tanpa dokumen pendukung.

Kejadiannya semakin lama semakin memburuk.

Petugas itu tidak mengatakan apa-apa ketika membalik surat-surat saya. Dia bangkit dan kembali ke kantornya. Dia kembali dan memberi cap paspor saya dan menandatanganinya.

“Selamat Datang di Bahamas”.

 

tiarapermata@nassaubahamas

Nassau, Bahamas.

 

tiarapermata@nassaubahamas

 

tiarapermata@nassaubahamas

 

Saya menatapnya dan bergumam terima kasih dengan mata yang berkaca-kaca. Saya tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Suatu saat dia (mungkin) akan mendeportasi saya, tahu-tahu dia memberi cap paspor saya. Tanpa alasan yang jelas, dia berpaling kepada wanita pemarah itu dan berkata bahwa saya memiliki visa AS sebelumnya. Si wanita membanting tumpukan kertas di meja dan tidak mengatakan apa-apa.

Benar- benar sebuah mujijat. Tak akan pernah terjadi tanpa campur tangan Ilahi. Terima kasih Tuhan.

Tiba-tiba badan saya merasa ringan. Rasanya ingin terbang.

Kami bergegas mengambil tas di luggage belt. Sambil menunggu ayah Janelle di luar, saya mencoba menenangkan detak jantung yang tidak menentu. Saya lega dengan berakhirnya mimpi buruk ini.

Saya tidak habis pikir mengapa saya mengabaikan semua hal yang PENTING. Sangat mengganggu.

Saya pikir dengan mendalam setelah kejadian ini, jika mereka memutuskan untuk mendeportasi saya, mereka tidak akan mendeportasi saya kembali ke Providenciales.  Tapi mereka akan mengirim saya kembali ke Indonesia. Itu terjadi pada beberapa teman yang kembali setelah liburan tahunan ketika mereka hanya perlu terbang dari Nassau ke Providenciales. Otoritas mengirim mereka kembali ke Indonesia. Sama dengan beberapa teman yang ditolak terbang ke Nassau untuk penerbangan koneksi mereka ke London.

 

tiarapermata@nassaubahamas

Cruise ship.

 

tiarapermata@nassaubahamas

Art market near cruise ship port.

 

tiarapermata@nassaubahamas

My friend who took me around Nassau. She was a wonderful guide.

 

Ternyata kejadian yang tidak menyenangkan tidak berakhir disini saja.

Saya sakit pada hari ketiga. Masalahnya semakin tidak menyenangkan kamar hotel saya benar-benar mengenaskan. AC mengeluarkan suara keras. Masalah lain saya kehilangan sebagian besar foto. Entah kenapa. Saya hanya memiliki beberapa photo dan juga yang diambil oleh teman saat saya sibuk membeli kartu pos.

Bertentangan dengan pengalaman mengerikan saya, Nassau adalah tempat yang indah. Lebih maju dari pada Turks and Caicos Islands. Infrastruktur yang modern dan pemandangan luar biasa. Penduduk yang sopan dan hangat. Bahkan petugas di bandara berlaku profesional dan akomodatif.

Teman-teman baru membawa berkeliling Nassau pada hari pertama. Hari kedua saya pergi dengan teman saya yang lain. Dia adalah teman Rasta pertama yang saya kenal. Hangat dan bersahaja. Dia memberi saya hadiah pada pertemuan kedua kami. Saya sangat tersentuh.

Sisa hari (2 hari) saya tinggal di kamar karena sakit. Menjengkelkan.

 

Pesan cerita ini:

Selalu perhatikan dan patuhi peraturan yang sebenarnya, bukan desas-desus. Jika tidak tahu, ajukan pertanyaan. Masih belum mengerti, terus bertanya. Cari informasi dari pihak yang berwenang. Saya mengalami saat yang menyenangkan ketika berkesempatan jalan – jalan ke Taipeh.

Jangan pernah meremehkan apapun, terutama seseorang yang memberi anda sesuatu di bandara. Apalagi seorang Ibu yang tidak anda kenal menitipkan anaknya. Berbahaya.

 

tiarapermata@nassaubahamas

 

tiarapermata@nassaubahamas

 

 

 

Facebook Comments

Pos ini juga tersedia dalam bahasa: English