Hidangan Lezat, Jakarta

KELILING KOTA DAN JAJAN DI JAKARTA

Saya percaya ketika orang mengatakan bahwa ketika kembali dari suatu perjalanan,

saya melihat negeri ini dengan mata yang berbeda. Benar, saya melihat sekitar dengan cara pandang yang berbeda sekarang.

Hal-hal yang tidak saya perhatikan dulu, sekarang saya meluangkan waktu dan mengamati dengan cara yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Salah satu hal adalah menikmati jajanan dan benar-benar memperhatikan cara pembuatannya. Terutama makanan yang belum pernah saya tahu.

Saya suka makanan jalanan.

Meski begitu, saya memilih tidak jajan saat atau selama perjalanan ke luar negeri. Ada beberapa alasan dibalik itu.

Pertama, jika saya merasa tidak enak badan (jetlag, flu karena perubahan iklim atau hal lainnya), saya membutuhkan makanan seperti nasi, pasta atau makanan karbohidrat lainnya. Saya tidak akan makanan yang pedas, gorengan dan khususnya makanan jalanan. Perut saya pasti tidak tahan.

Alasan lain saat saya bepergian sendiri saya harus mengurus diri sendiri. Saya harus berhati-hati dengan lingkungan sekitar saya dan, tentu saja, kesejahteraan saya. Karena itu saya tidak mengambil resiko untuk jajan. Sayang sekali.

Setiap perjalanan saya harus dalam keadaan prima. Perjalanan saya ke Ekuador aktif dan sibuk sepanjang hari. Saya harus fokus dengan jadwal bepergian. Saya harus bangun pagi, packing barang, naik taksi ke bandara, dll, dll dan masih banyak hal lainnya. Perjalanan melelahkan. Jika saya tidak fit, tubuh saya tidak akan mampu menangani jadwal yang sibuk.

Di sisi lain, saya akan makan makanan jalanan jika saya bersama teman seperti yang baru saya kenal di Istanbul. Kami makan sandwich ikan di Eminonu. Hari masih pagi. Kami makan fish sandwich sambil menunggu loket buka.Rasanya aneh makan ikan goreng pagi hari, terlebih rasa yang tertinggal di dalam mulut. Saya minum air dan makan permen. Mudah-mudahan teman-teman saya tidak mencium bau mulut saya yang tidak sedap.

 

tiarapermata@jakartaindonesia

Taman Suropati.

 

tiarapermata@jakartaindonesia

Fruit salad seller.

 

Saya tidak bercanda, selama di Istanbul saya selalu makan roti. Simit makanan sehari-hari saya di Istanbul. Saya makan sepanjang hari dari pagi sampai malam. Saya tidak peduli betapa konyolnya hal itu, hal terpenting adalah perut saya terasa nyaman. Sehingga saya bisa menikmati perjalanan semaksimal mungkin. Kalau bosan saya makan doner kebab dengan roti tebal ditambah sedikit daging.

Setelah pengalaman buruk saya di Nassau, saya senang tidak pernah sakit selama dalam perjalanan. Saya selalu berdoa dan berdoa setiap hari agar saya tetap aman dan sehat selama perjalanan sehingga saya dapat menikmati perjalanan impian saya.

Perjalanan kali ini ke Jakarta adalah cerita lain.

Kami sekeluarga bepergian ke Jakarta. Kami hanya punya satu hari untuk istirahat. Saya dan adik memutuskan untuk tur sekitar Jakarta.

Sopir keluarga membawa kami ke taman Suropati. Saya tidak percaya bahwa taman ini ada di tengah kota Jakarta yang sibuk dan polusi. Saat kami berjalan, adik menunjuk ke penjual makanan jalanan.

Saya tidak pernah mencicipi sebelumnya tapi saya ingin mencoba. Jadi kami memesan satu piring. Saya kemudian tahu bahwa hidangan ini berasal dari Cirebon, Jawa Barat. Bahan utamanya adalah tahu goreng (tahu gembos), saus kedelai, cabe merah dan gula aren.

 

Tahu Gejrot

Saya pikir sebelumnya nama ini muncul karena si penjual harus menumbuk cabe dan bahan lain di atas cobek.

Namun ternyata ceritanya berbeda. Penjual menyiapkan botol yang berisi gula aren yang sudah dicampur dengan air. Tutup botol diberi lobang kecil. Saat penjual menuangkan ke dalam potongan tahu, mengeluarkan suara ‘jrot jrot jrot’. Itulah asal mula nama makanan jalanan ini. 

 

tiarapermata@jakartaindonesia

 

Penjual memotong tahu goreng kecil – kecil dan kemudian mengaturnya di piring gerabah.

tiarapermata@jakartaindonesia

Cutting tofu into pieces.

 

Cabe (biasanya pelanggan akan memberitahu penjual tahu berapa cabe yang mereka inginkan) dan bawang merah goreng. Kemudian di tumbuk diatas cobek.

tiarapermata@jakartaindonesia

How many chilli? hot?.

 

Kemudian ia menambah dengan bumbu cair yang terdiri dari gula aren, asam jawa, kecap yang sudah tercampur dalam botol.

tiarapermata@jakartaindonesia

 

Lalu dia menuangkan di atas potongan tahu dan kemudian menghidangkan dengan tusuk gigi sebagai ‘garpu’.

tiarapermata@jakartaindonesia

 

Lezat. Makanan murah dan sederhana dalam pembuatannya. Cocok untuk snack sore. Kemudian kami meluncur ke Monas. Disana kami mendapati penjual makanan kerak telor.

 

Kerak Telor

Hidangan tradisional seperti telur dadar yang berasal dari Jakarta (Betawi). Terbuat dari ketan dengan telur dan disajikan dengan serundeng (kelapa parut goreng), bawang merah goreng dan udang kering sebagai topping dan bawang merah goreng.

Berlawanan dengan gejrot tahu, penjual membuat kerak telur dari bahan yang masih mentah di tempat.

 

Bahan utamanya adalah ketan yang sudah rendam sepanjang malam agar lembut dan telur (ayam atau bebek. Biasanya telur bebek karena dianggap lebih enak). Kemudian bahan lainnya seperti ebi (udang asin kering), serundeng (kelapa parut manis), garam, bumbu, dan merica.

tiarapermata@jakartaindonesia

Variety ingredients for Kerak Telor.

 

Penjual menaruh sedikit ketan pada wajan kecil tanpa minyak goreng sehingga telur dadar menempel di wajan.

tiarapermata@jakartaindonesia

Just a little bit.

 

Penjual menutup wajan dan menggoreng di atas pemanggang dengan arang.

tiarapermata@jakartaindonesia

 

 

Kemudian wajan dibalik (tanpa penutup) sehingga ketan menghadap langsung arang sampai berwarna coklat gelap atau sedikit gosong.

tiarapermata@jakartaindonesia

 

Bila sudah matang dia menaburkan ebi (udang asin kering), serundeng (kelapa parut manis), garam, bumbu, dan merica.

tiarapermata@jakartaindonesia

 

 

Facebook Comments

Pos ini juga tersedia dalam bahasa: English