Inspirasi Perjalanan, Kairo

KAIRO KE AMMAN: PERJALANAN KE MASA LALU

Setiap perjalanan adalah istimewa dan berbeda satu sama lainnya. Tidak masalah pendek atau panjang.

Lokasi, waktu, orang, budaya dan sejarah. Begitu banyak hal baru yang saya pelajari selama perjalanan. Ketika saya mengira telah melakukan perjalanan yang paling berkesan…ternyata perjalanan berikutnya adalah yang paling berkesan dari yang sudah pernah saya lakukan.

Luar biasa.

Namun perjalanan tidak begitu saja terjadi. Semuanya harus direncanakan secermat mungkin. Saya bekerja keras agar setiap aspek perjalanan benar-benar terencana dengan akurat.

Memang rencana tinggal rencana kalau timing tidak tepat.

 

Bagian terbesar dari perjalanan ini adalah perjalanan religius

Waktu memainkan peranan utama.

Saya tidak bisa melakukan ini ketika masih bekerja di Turks and Caicos Islands. Waktu liburan hanya sebulan, biasanya sekitar bulan September hingga Oktober. Selalu sibuk mengurus urusan pribadi dan berkumpul dengan keluarga. Terlalu pendek. Selain itu, sulit dikombinasikan dengan perjalanan ke Mesir, Israel dan Yordania. Terlalu beresiko.

Hal lain Mei – Juni bukanlah musim turis di Timur Tengah. Khususnya selama Ramadhan. Tidak terlalu sibuk untuk bepergian dan harganya cukup kompetitif. Saya dapat menambah lebih banyak waktu di Yordania mengunjungi beberapa tujuan.

 

tiarapermata@traveltothepast

The Great Pyramids of Giza.

 

tiarapermata@traveltothepast

SPHINX.

 

tiarapermata@traveltothepast

Entrance to one of The Old Cairo Churches.

 

tiarapermata@traveltothepast

 

tiarapermata@traveltothepast

St. George Orthodox Church.

 

tiarapermata@traveltothepast

Ben Ezra Synagogue.

 

tiarapermata@traveltothepast

Simon The Tanner Monastery.

 

tiarapermata@traveltothepast

 

tiarapermata@traveltothepast

 

Terakhir, Mei adalah bulan spesial. Saya ‘mentraktir’ diri dengan hadiah berbeda tahun ini. Jika saya tidak melakukannya pada diri sendiri, siapa yang bisa memberikannya kepada saya, bukankah begitu?.

Setelah berbulan-bulan riset untuk perjalanan ini, saya memutuskan (dengan berat hati) bergabung dengan tur grup. Saya pikir udah kapok dengan tur grup setelah perjalanan ke Galapagos.

 

Saya Enggan Bergabung dengan Group Tour

Perjalanan religius lain yang telah saya lakukan adalah ke Vatikan dan Lourdes beberapa tahun yang lalu bersama keluarga. Perjalanan fantastis. Namun, perjalanan ini berbeda dari yang lain. Sejarah panjang reruntuhan, bangunan tua dan tempat-tempat suci lainnya. Hanya pemandu lokal yang dapat membantu kami memahami mengapa, dimana, bagaimana dan apa yang terjadi pada masa Yesus Kristus dilahirkan sampai wafat. Ada juga cerita yang membumbui kisah di Alkitab. Hanya orang lokal yang tahu semua kisah ini. Tidak mudah saya temukan di buku panduan.

 

Selain itu juga sulit untuk menavigasi Yerusalem jika melakukan perjalanan solo

Saya akan seperti pelancong biasa. Saya akan menjelajahi kota tua tanpa memahami setiap bangunan dan melihat nilai di balik reruntuhan yang berusia ratusan tahun. Terutama buat pelancong suka nyasar seperti saya.

Pekerjaan saya hanya memastikan hadir tepat waktu pada setiap kegiatan.

 

Bergabung dengan group juga mudah untuk menavigasi hukum berbagai wilayah

Banyak cerita turis ditahan oleh pihak yang berwenang karena memotret atau pergi ke tempat yang dilarang.

Beberapa kali pemandu dari Mesir (ketika kita berada di Mesir) meneriakkan “checkpoint”. Berarti kita tidak boleh mengambil foto.

Ketika kami berada di Mesir, kami merasakan perjalanan yang lancar dari satu pos pemeriksaan ke pemeriksaan berikutnya (lebih dari 10 pos pemeriksaan). Kami tidak harus keluar dari bus dan membuka koper kami untuk diperiksa.

 

Waktu Persiapan

Biasanya, ketika merencanakan perjalanan, saya selalu sibuk melakukan semua riset ditambah berbulan-bulan persiapan. Saya harus menyelesaikan semua pekerjaan dengan tenggat waktu, menjaga semua vendor membayar tepat waktu, mendelegasikan tugas dan lembur selama berhari-hari. Di antara jadwal sibuk, saya harus mencari harga terbaik di internet, mengajukan permohonan visa, reservasi akomodasi, dan banyak lagi.

Tentu saja, saya lelah dan stress.

Malah pernah suatu ketika saya akan bepergian, saya merasa lelah. Belum lagi perjalanan itu sendiri juga membutuhkan konsentrasi. Kurang konsentrasi menyebabkan saya masuk ke gerbang yang salah (seperti yang saya alami di Singapura sebelumnya).

Perjalanan saya sebelumnya ke Ekuador adalah perjalanan grup dengan transportasi dan akomodasi ditambah tiga tur gratis. Saya harus mengatur tiket sendiri ke Quito, Ekuador, dan melanjutkan keesokan harinya dari Quito ke Baltra Island. Saya harus mengatur akomodasi di Quito (sebelum dan sesudah perjalanan ke Galapagos), tiket pulang-pergi, transportasi darat dan asuransi. Semuanya harus dilakukan dengan benar, jadi tidak ada masalah dalam perjalanan.

Ketika saya bergabung dengan grup ini, saya sangat lega karena tour leader mengatur segalanya. Dari penerbangan, transportasi, makanan (tiga kali sehari), akomodasi, perjalanan harian, dan semua hal sepele di jalan. Serius, saya merasa sangat dimanjakan

Saya hanya mencari agen perjalanan dan saya bombardir dengan segala macam pertanyaan yang biasanya saya cari sendiri. Karena saya sering bepergian dan bekerja di agen perjalanan selama bertahun-tahun, saya gugup dengan begitu banyak skenario (sebagian besar buruk dan terburuk) di kepala saya. Sulit untuk meninggalkannya di tangan agen perjalanan profesional.

 

tiarapermata@traveltothepast

Jerusalem panorama from Mount Olive.

 

tiarapermata@traveltothepast

Dome of The Rock.

 

tiarapermata@traveltothepast

The Church of the Nativity, also known as Basilica of the Nativity. It is a basilica located in Bethlehem in the West Bank.

 

tiarapermata@traveltothepast

Wailing Wall.

 

tiarapermata@traveltothepast

 

tiarapermata@traveltothepast

 

tiarapermata@traveltothepast

 

tiarapermata@traveltothepast

 

tiarapermata@traveltothepast

 

Kesan Buruk Group Tour

Seperti kawanan bebek yang dipandu oleh seorang petani memegang tongkat. Saya kesal setiap kali  bertemu dengan kelompok besar yang bergegas ke tujuan berikutnya. Bergegas seperti air bah. Terkadang mereka tidak peduli dengan orang-orang di sekitar. Mereka memaksa yang lain untuk minggir agar memberi jalan. Mereka berbicara keras-keras dan tidak peduli keheningan gereja.

Saya merasa kasihan kepada anggota kelompok yang tidak dapat mendengar apa yang pemandu lokal jelaskan, karena lokasi yang terlalu sempit atau banyak orang di sekitar lokasi. Kesal dengan anggota grup yang sibuk berbicara dengan anggota lain saat pemandu menjelaskan sesuatu. Belum lagi para anggota tur yang mengambil gambar di depan patung atau bangunan tanpa mengetahui bangunan apa itu sebenarnya.

 

Saya Harus Membuat Pilihan Sulit

Saya suka berlama-lama memperhatikan lukisan atau patung bahkan hanya nongkrong di setiap perjalanan. Saya berkompromi ketika saya memilih untuk bergabung dengan tur grup. Saya tidak punya banyak waktu untuk menikmati berbagai tempat yang kami kunjungi. Ketika saya baru saja menikmati suatu tempat, pemimpin atau pemandu wisata mulai melambaikan tangan dan berkata, “Ayo pergi”. Saya mencoba selalu berjalan di depan atau di belakang pemandu wisata untuk memastikan bahwa saya tetap berada di grup dan tidak tersesat.

Padahal…bagi saya tersesat adalah bagian dari perjalanan itu sendiri.

Agen perjalanan yang hebat dan terkenal tidak menjamin pengalaman perjalanan yang luar biasa. Saya ingin mendapatkan pengalaman ziarah yang mengesankan dengan kelompok kecil (seperti yang saya lakukan untuk perjalanan Galapagos). Saya sering melihat kelompok besar di sepanjang jalan, saya dapat menebak bahwa kekacauan (akan) terjadi di setiap sudut.

Singkatnya dengan kelompok kecil lebih mudah untuk bersosialisasi dan mengembangkan persahabatan (seperti yang kita lakukan sekarang). Bagi saya yang penting seimbang antara menikmati tur dan ziarah.

 

Jadwal Padat

Tidak ada waktu luang.

Jadwal grup sangat padat dengan tempat-tempat untuk dikunjungi dan kegiatan yang dilakukan. Kami bangun jam 5 – 6 pagi dan check in di hotel lain sekitar jam 6 sore. Cukup waktu untuk mencari kamar, makan malam di restoran hotel dan kemudian tidur. Kami melakukan hal yang sama setiap hari.

Tidak ada waktu untuk santai. Tidak ada waktu untuk tidur siang (bagi saya).

Ketika berada di bus, pemandu menjelaskan beberapa hal tentang apa yang akan kami kunjungi atau lihat di sepanjang jalan. Terutama sejarah dan kisah di balik semua misteri kehidupan Yesus Kristus. Saya menantikan momen seperti ini ketika pemandu tur menceritakan sebuah kisah dalam Alkitab dengan kombinasi kebiasaan dan sejarah ribuan tahun yang lalu. Namun demikian, beberapa kali pikiran saya mengembara ke arah yang berbeda.

Melamun.

Pikiran saya mengembara ribuan tahun yang lalu. Bertanya-tanya bagaimana orang jaman baheula berkomunikasi dan melakukan kegiatan sehari-hari.

Kalau tidak, pikiran saya mengembara karena lelah, mengantuk dan kadang lelah berkonsentrasi.

Ketika pemandu wisata memberi waktu untuk beristirahat di bus selama perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, saya sibuk mengambil foto atau membuat video.

 

Saya Suka Melakukan Perjalanan Darat

Setiap tempat mempunya cerita berbeda. Legenda, sejarah dan cerita turun temurun membuat saya takjub.

Pemandangan alam yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Gunung berbatu dan tanah tandus. Bentuk dan warna batu yang unik membuat saya terpesona. Tanaman pangan dengan teknologi canggih ditanam di tanah tandus.

Belum lagi cerita perbatasan yang mendebarkan.

Saya tidak pernah membayangkan bahwa kami dikawal oleh seorang polisi dengan pistol di bus selama perjalanan panjang melintasi padang gurun Sinai. Saya sama sekali tidak memejamkan mata selama perjalanan bus. Menakutkan.

 

Setiap Langkah di Via Dolorosa adalah Sejarah

Tukang melamun seperti saya nyaris tidak bisa berkonsentrasi dengan begitu banyak pertanyaan di kepala. Terutama ketika kami melakukan Jalan Salib di Via Dolorosa dengan hiruk-pikuk turis, jalan berliku, penjual pasar berteriak kepada pejalan kaki dan tentara Israel di mana-mana.

Terlebih lagi, saya benar-benar ingin mencurahkan setiap momen dengan kamera.

Ketika saya masih mencoba untuk mendapatkan sudut yang tepat, kelompok saya telah berjalan jauh. Situasi yang membuat saya frustasi. Sekali lagi, saya harus membuat pilihan. Saya masih beruntung mendapatkan beberapa foto di sana-sini.

Satu saat saya berkonsentrasi dan mengucapkan Doa Maria, di lain waktu mata saya mengembara  menelusuri gang-gang yang berkelok-kelok, gang-gang yang tampak misterius, pintu-pintu tua (apa yang ada di belakang mereka) atau ke mana semua wanita dalam busana unik bergegas pergi.

Terkadang ketika saya berdoa para pemilik toko berteriak “dua sepuluh dolar …”. Oh nooooo…. Lucunya ketika salah satu teman perjalanan membuka salah satu matanya dan melihat barang dagangan … hahahaha. Saya melihat matanya bersinar. Dia tersentak ketika menyadari saya memergokinya, dengan cepat dia menutup mata.

Madam X ngomel, “Mengapa kita harus mengambil rute Via Dolorosa dengan semua toko di sepanjang jalan? Kita tidak dapat berkonsentrasi dan berdoa!”.

Saya mengatakan kepadanya, “Ini adalah tempat yang sama sejak zaman dulu ketika Yesus harus pergi ke Golgota, dia harus melalui jalan yang tidak rata, toko di sepanjang jalan, pedagang menawarkan barang dagangan di pasar dan orang yang lewat.”

Namun dia masih menunjukkan wajah yang sangat kesal.

 

tiarapermata@traveltothepast

 

tiarapermata@traveltothepast

 

tiarapermata@traveltothepast

 

tiarapermata@traveltothepast

 

tiarapermata@traveltothepast

Souvenir shops around Via Dolorosa. I understand why fellow travelers are tempted by the allure of good stuff at cheap prices.

 

tiarapermata@traveltothepast

 

Beli, Beli….Belanja dan Belanja Lagi

Ketika saya bekerja di agen perjalanan, saya tahu semua kesenangan di akhir bulan ketika komisi dari mitra kami datang ke kantor. Berarti kami mendapat sedikit tambahan untuk dibelanjakan.

Sekarang saya ada di sisi lain. Saya adalah calon pembeli yang mendapatkan semua kata manis dari penjual agar membeli barang-barang mereka. Benar-benar dimanjakan dengan salam yang bersahabat di dalam Bahasa Indonesia dan teh enak dengan berbagai macam rasa.

Kemudian acara dimulai.

Pemilik gerai memberi pengarahan sejarah singkat tentang asal-usul minyak, kertas, mosaik, dan benda-benda lain. Di mana dan bagaimana nenek moyang menggunakan semua materi di sekitar mereka untuk kehidupan sehari-hari.

Aahhh…ohhh…lalu terdengar tawa atau cekikikan di sana-sini. Ini adalah puncak dari perjalanan kami. Belanja dan berburu barang-barang unik dari negara yang kami kunjungi.

“Nyonya, saya memberimu harga spesial. Hanya untukmu,” dia berbisik di telinga. Penjual memulai dengan trik yang menggetarkan kantong uang.

Tidak yakin apakah ini hanya untuk telinga saya saja atau dia juga berbisik kepada anggota lain dengan ‘hanya untukmu’. Benar-benar trik penjual yang halus. Mereka suka memberikan harga spesial untuk grup kami tetapi pada akhirnya mereka tetap mendapat untung besar.

Selain itu bantuan pemandu tur sangat membantu. Dia membawa kami ke tempat dengan kualitas yang baik, mereka juga memberi arahan tempat membeli cinderamata yang baik dan murah. Bahkan dari penjaja yang datang ke bus kami.

Khususnya bagi saya yang mencari sesuatu yang berharga dari $$$ yang saya bawa. Tidak berat di ongkos dan tidak membuat koper kecil saya menjadi lebih berat.

Geli rasanya ketika salah satu anggota menyombongkan barang yang mereka beli dengan harga serendah mungkin. Dua dolar untuk satu pashmina atau lima dolar untuk untuk 15 magnet kulkas.

Di akhir tur yang hanya 9 hari (minus naik pesawat) anggota tur saling mengejek siapa yang membawa lemari terberat. Hahahaha…

 

Selfie, Wefie dan Foto Grup

Oke … ini subjek yang rumit. Seringkali saya kesal, geli bahkan tertawa terbahak-bahak dengan tingkah laku teman-teman.

Ketika kami baru turun dari bus, satu atau dua dari anggota rombongan mencuri  kesempatan untuk mengambil photo atau selfie di depan gedung atau patung. Meski mereka diberitahu bahwa ada waktu untuk foto sesudah penjelasan dari pemandu.

Tertegun melihat seorang teman yang berjalan santai ke tengah jalan hanya untuk mengambil foto. Dia bahkan tidak peduli dengan keselamatannya mengambil gambar dari sudut berbahaya.

Pada hari pertama perjalanan, saya ikut bagian dalam foto grup. Setelah beberapa saat saya menghindar dari foto grup. Beberapa kali mereka memanggil nama saya, kemudian (mungkin) mereka bosan dan mengerti jika saya tidak terlalu suka foto grup.

Suasana yang serius dan hening bisa berubah drastis jika satu atau dua teman berhasrat mengambil foto. Tidak masalah apakah anggota tur tua atau muda,semua ingin ikut ambil bagian. Pemandu tidak heran dengan tingkah laku kami bahkan memberi kami (peziarah dari Indonesia) julukan foto maniak dengan singkatan yang berbeda setiap negara. Mereka tidak berlebihan karena teman-teman saya benar-benar serius dengan sesi foto ini. Tidak ada yang bisa menggoyahkan kegirangan di depan kamera – selfie, wefie atau grup foto. Bahkan anggota yang mengeluh lelah dan sakit, tiba-tiba berfoto dengan ceria dan mata berbinar-binar.

Jika anggota lain sibuk berpose, saya menjadi pengarah gaya. Ketika anggota lain sibuk mengatur posisi kamera, saya malah dengan sukarela mengambil foto mereka. Kemudian, tidak yakin kapan dan mengapa terjadi, saya lebih suka mengambil foto teman lain daripada berpartisipasi di dalamnya. Saya hanya merasa sudah memiliki cukup banyak foto.

Saya suka melihat humor mereka saat mengambil foto. Kemudian saya tertarik untuk melihat pose foto seperti apa yang mereka sukai.  Sebenarnya kebiasaan ini tidak hanya terjadi dengan grup saya (dari Asia) ini juga terjadi dengan kelompok lain dari Eropa atau dari Amerika. Mereka berpose dengan berjabat tangan di depan plakat perdamaian. Dramatis!.

 

tiarapermata@traveltothepast

 

tiarapermata@traveltothepast

 

tiarapermata@traveltothepast

 

tiarapermata@traveltothepast

 

tiarapermata@traveltothepast

We done everything. Selfie – check. Wefie – check Shoefie – new thing…check.

 

tiarapermata@traveltothepast

Teenagers all around the world are the same. “Miss, photo please”.

 

tiarapermata@traveltothepast

Amman Citadel.

 

tiarapermata@traveltothepast

 

 

Facebook Comments

Pos ini juga tersedia dalam bahasa: English