Hidangan Lezat, Malang

MERAH DAN KUNING KOLAK PISANG DI KLENTENG ENG AN KIONG

Saya mendengar kuil ini beberapa tahun yang lalu dari salah satu teman lama saya.

Dia menyebutkan tentang semua yang enak-enak di lantai dasar. Apa lagi kalau bukan soal makanannya. Makanan yang enak dan rasanya berbeda dari tempat lainnya. Sudah lama saya ingin berkunjung ketempat ini, akhirnya sekarang kesampaian untuk mengagumi tempat yang bersejarah ini.

Saya tidak hanya tertarik dengan makanan tapi juga dengan arsitektur dan sejarah klenteng.

Klenteng ini merupakan penanda keberadaan masyarakat Tionghoa di Malang. Dahulu semasa saya masih tinggal di Malang, setiap kali lewat selalu melihat warna merah dan kuning menghiasi setiap sudut bangunan. Apalagi kalau ada perayaan besar, semakin meriah hiasan klenteng ini.

 

tiarapermata@klentengengankiongmalang

 

tiarapermata@klentengengankiongmalang

 

tiarapermata@klentengengankiongmalang

We were unable to enter the temple. Only for worshipers.

 

tiarapermata@klentengengankiongmalang

 

tiarapermata@klentengengankiongmalang

 

Bangunan yang dibangun sejak abad ke-18 ini berada tepat di persimpangan sibuk dekat Pasar Besar Malang, di Kota Tua Malang.

Eng An Kiong berarti Istana Keselamatan dalam Keabadian Tuhan berasal dari bahasa China. Kuil itu mengingatkan saya pada sebuah kuil Cina di Los Angeles. Warna merah mendominasi warna bangungan yang melambangkan kebahagiaan dan keberanian. Warna merahnya diperkaya dengan warna emas yang mewakili keagungan.

 

tiarapermata@klentengengankiongmalang

The temple (Klenteng) just right in the busy intersection. I took a picture of this gate inside the temple.

 

tiarapermata@klentengengankiongmalang

 

tiarapermata@klentengengankiongmalang

Ritual inside the temple.

 

tiarapermata@klentengengankiongmalang

 

Adik mengajak saya ke sana pada Minggu siang yang cerah. Lalu lintasnya tidak sepadat hari biasa bahkan kami bisa parkir di dalam kuil. Sayang sekali kami dilarang masuk jika bukan orang yang bersembahyang. Saya tidak kecewa, saya masih bisa melihat dari luar dan mengambil sekumpulan foto.

Inilah salah satu bangunan tua yang banyak tersebar di sekitar kota Malang. Kuil ini telah berdiri sejak 1825 yang diprakarsai oleh Letnan Kwee Sam Hway. Menurut sejarah, Kwee Sam Hway diyakini sebagai keturunan ketujuh seorang jenderal pada saat Dinasti Ming berkuasa di China.

Dia sebenarnya berasal dari Sumenep. Nenek moyangnya tinggal di Sumenep yang menikah dan membentuk sebuah komunitas yang juga cukup besar di Sumenep.

Klenteng Eng An Kiong adalah Klenteng Tri Dharma, yang didedikasikan untuk umat Budha, Taois dan Konghucu. Tempat ini juga menjadi salah satu pusat kebudayaan Tionghoa di Malang dengan berbagai macam seperti pertunjukkan seni seperti tarian singa dan potehi wayang.

 

tiarapermata@klentengengankiongmalang

 

tiarapermata@klentengengankiongmalang

 

tiarapermata@malangfood

Kolak – banana compote

 

Kami melanjutkan penjelajahan kami ke lantai dasar klenteng. Surga makanan bagi pencinta kuliner.

Rujak Cingur adalah favorit saya. Rujak Cingur adalah moncong daging sapi yang di rebus sampai empuk dan dipotong-potong. Dipadukan dengan sayuran rebus, irisan mentimun, nanas, lontong, mangga muda, tahu goreng dan tempe. Semua dicampur dengan saus yang terdiri dari terasi, gula merah, cabai, kacang tanah dan irisan pisang hijau. Lezat!!.

Hidangan ini tidak akan lengkap tanpa ‘teman pendampingnya’ yaitu kolak pisang. Potongan pisang, nangka, singkong dan mutiara tapioka dengan santan (jangan lupa dan pandan) plus sedikit es batu. 

 

 

Facebook Comments

Pos ini juga tersedia dalam bahasa: English