Istanbul, Pasar

APA YANG PALING SAYA DAMBAKAN KETIKA TRAVELING

Saat saya bepergian hanya ingin rilek.

Prioritas utama dalam daftar adalah menikmati waktu liburan.

Benar, saya suka berfoto dan pergi ke tempat baru. Saya selalu ingin pergi ke tempat baru dan mengalami budaya yang berbeda dari berbagai negara.

Namun (sejak saya bekerja di luar negeri) saya hanya ingin rilek dan menikmati setiap menit perjalanan. Stress dalam pekerjaan adalah pemicu. Salah satu penyebabnya adalah pekerjaan yang tak ada akhirnya. Tugas yang berubah sewaktu-waktu karena kondisi alam atau permintaan tamu.

Meskipun demikian, tidak pernah menjemukan. Setiap hari selalu ada tantangan yang menarik.

Ratusan pekerjaan harus dilakukan dalam tempo singkat. Saya sangat mencintai pekerjaan (jika tidak, saya tidak akan tinggal di perusahaan yang sama selama 10 tahun). Namun demikian, ada saatnya saya ingin meninggalkan pekerjaan, pulang ke rumah dan tidur sepanjang hari.

Karena itu selama liburan, saya melakukan hal yang sebaliknya. Tidak ada agenda kerja, tidak ada daftar tugas. Semuanya berdasarkan mood. Berubah setiap kali. Sebanyak mau saya.

 

tiarapermata@istanbulturkey

Panorama from Galata Tower.

 

tiarapermata@istanbulturkey

Local enjoy afternoon sun (Galata Tower).

 

tiarapermata@istanbulturkey

Galata Bridge and fishermen.

 

Tentu ada hal yang harus saya rencanakan dulu.

Seperti saat saya pergi ke New Orleans. Saya memesan workshop street photography dulu. Tapi saya tidak memesan tiket ke Jazz Festival. Saya membulatkan tekad  dua hari sebelum Jazz Festival.

Ketika saya merencanakan ke Ekuador, saya memesan setiap hal terlebih dahulu. Benar-benar melelahkan dan menuntut pemikiran yang serius tapi layak setiap menitnya.

Bertentangan dengan hal-hal yang saya lakukan di Istanbul. Saya merencanakan hari berdasarkan mood dan cuaca hari itu.

Jika cuaca buruk, saya memilih pergi ke pasar tertutup atau naik kapal menyusuri Bosphorus. Jika hari lebih baik (hanya berawan dan dingin) saya berkeliaran di sekitar Eminonue dan sekitarnya.

Saya sangat lelah setelah beberapa minggu berlibur di Indonesia. Bukan liburan sama sekali. Lebih banyak bergegas ke berbagai tujuan untuk menyelesaikan ratusan hal yang harus dilakukan sebelum terbang kembali ke Turks dan Caicos Islands. Jadi ketika akhirnya sampai di Istanbul, saya tidak ingin melakukan apapun.

 

tiarapermata@istanbulturkey

Ortaköy Mosque.

 

tiarapermata@istanbulturkey

Bosphorus Bridge.

 

tiarapermata@istanbulturkey

Scenery of Bosphorus.

 

tiarapermata@istanbulturkey

Busy fried food vendor.

 

tiarapermata@istanbulturkey

Yorus Fortress at the top of the hill of Anadolu Kavağı Village with views of the Bosphorus and the Black Sea to the North.

 

Mengingat cuaca buruk dan beberapa pendapat turis saat mereka berada di Capadocia, saya membatalkan rencana ke sana. Saya hanya tidak ingin melakukan kegiatan yang serius selama 10 hari perjalanan.

Saya hanya berkeliaran, tidak ada yang istimewa. Nongkrong di Jembatan Galata atau berjalan mondar-mandir di Istiklal Avenue atau Sultanahmet. Jika lelah berjalan, saya duduk di Masjid Baru dan Eminonu. Yang saya lakukan hanyalah nonton orang lewat.

Hari sudah menjelang senja. Cuaca semakin dingin. Dengan sangat menyesal saya pulang ke penginapan sebelum hujan turun.  Saya naik metro kembali ke tempat tinggal. Hari-hari saya seperti ini selama tinggal di Istanbul. Saya sangat menikmatinya.

 

tiarapermata@istanbulturkey

Dolmabahçe Palace built between the years 1843 and 1856. Then Sultan and his family moved out of the Topkapı Palace. Sultan considered Topkapı Palace was lacking in luxury and comfort compared to the palaces of the European monarchs.

 

tiarapermata@istanbulturkey

The Dolmabahce Palace was home to six Sultans from 1856, up until the abolition of the Caliphate in 1924.

 

Duduk dari satu bangku ke bangku yang lain. Jalan memutar ke Eminonu hanya untuk membeli simit yang lebih renyah (sementara ada banyak penjual simit lainnya).

Ketika saya memulai perjalanan dengan lamban, saya memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan hal baru seperti nonton orang lewat. Orang-orang Istanbul suka nongkrong dan nonton orang juga.

Semakin banyak orang keluar saat cuaca cerah dan hangat. Begitu banyak bangku di sekitar tapi tidak cukup untuk menampung orang-orang yang nongkrong dengan keluarga atau teman sambil makan camilan dan nonton orang.

Mereka hanya duduk berjam-jam seperti saya. Terutama keluarga dengan anak-anak, orang tua membeli makanan ringan dari penjual makanan ringan dan mereka makan dan menikmati cuaca yang sejuk. Niceee !!.

 

tiarapermata@istanbulturkey

I was not sure if he is a shoes polisher or shoe serviceman. I marvelled at his equipment.

 

tiarapermata@istanbulturkey

Nostalgic İstiklal Caddesi Tram. This tram is connecting Taksim Square with Galatasaray and Tünel Square.

 

tiarapermata@istanbulturkey

Street performance at Istiklal Cadessi or Istikal Avenue. It is one of the most famous avenues in Istanbul, Turkey.

 

tiarapermata@istanbulturkey

Whirling Dancers.

 

Satu hal yang membuat saya penasaran bahwa saya tidak pernah melihat makanan cepat saji (mungkin saya tidak berada di tempat yang tepat) seperti MacDonald, Kentucky Fried Chicken atau Wendys. Orang-orang Istanbul menikmati camilan tradisional mereka dengan sangat baik.

Jika saya bosan makan simit, saya membeli jagung rebus. Hangat dan manis. Saya juga mencoba kastanye panggang dan masih banyak lagi untuk camilan atau makanan saya. Saya tidak makan nasi selama liburan. Aneh. Saya membeli simit dan mencuil sedikit demi sedikit. Saya selalu berbekal simit kemanapun pergi. Setiap kali hendak pulang ke penginapan, saya selalu membeli simit.

Sambil makan makanan ringan, saya duduk di salah satu bangku. Sekali lagi, nonton orang lewat. Begitu banyak kejadian lucu di sekitar saya.

Inilah kesempatan terbaik untuk berfoto. Saya menggunakan ponsel atau DSLR. Orang-orang tidak peduli saat mengeluarkan kamera dari tas dan mulai jeprat-jepret. Mungkin karena mereka tahu pasti saya turis.

 

tiarapermata@istanbulturkey

The Sultan Ahmed Mosque or Sultan Ahmet Mosque or Blue Mosque.

 

tiarapermata@istanbulturkey

Inside of the Blue Mosque.

 

tiarapermata@istanbulturkey

Hagia Sophia or Holy Wisdom in Latin was a Greek Orthodox Christian patriarchal basilica (church), later an imperial mosque, and is now a museum (Ayasofya Müzesi) in Istanbul, Turkey.

 

tiarapermata@istanbulturkey

Quiet time in Sultanahmet – Old City.

 

Bahkan anak-anak pun tahu saya turis. Sering orang mengira saya adalah seorang Cina, Thailand, Filipina, Korea, bahkan dari Republik Dominika.

Suatu ketika, saat saya duduk di salah satu bangku dekat New Mosque, tiga gadis muda (sepertinya anak SMP) mendekat. Mereka saling dorong dan salah satu yang paling berani, akhirnya, berjalan mendekat sambil mencengkeram buku catatan di kedua tangan.

“Permisi, bolehkah kita berbicara dengan anda?” Dia menatap dengan malu-malu.

“Ya, tentu saja.” saya duduk dan menunggu dia memulai pembicaraan.

“Kami adalah murid dari … (saya tidak mendengar apa yang dia katakan dimana sekolahnya) kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan tentang diri anda.”

“Boleh.”

“Siapa namamu?” Dia memegang sebuah pena dan menatap dengan saya malu-malu

“Tiara.” Dia menulis di buku

“Darimana asal kamu?”

“Indonesia.”

“Apakah Anda datang untuk berlibur?”

Setelah selusin pertanyaan, dia menyudahi wawancara. Sepertinya mereka mendapat tugas dari kelas bahasa Inggris mereka. Mereka mengucapkan terima kasih, selamat tinggal dan pergi ke arah lain untuk mencari ‘korban’ lainnya.

 

tiarapermata@istanbulturkey

 

tiarapermata@istanbulturkey

 

tiarapermata@istanbulturkey

Topkapi Palace.

 

tiarapermata@istanbulturkey

From inside of one of the museum in Topkapi Palace.

 

Saya mengambil begitu banyak foto sementara saya bepergian lambat di Istanbul.

Kehidupan sehari-hari orang Istanbul membuat penasaran. Orang Istanbul adalah penyayang kucing. Semua kucing. Kucing rumah atau kucing liar. Saya tidak pernah melihat kucing kurus atau sakit. Semua kucing gemuk dan berbulu tebal.

Ketika saya duduk di dekat tangga seperti bangku, saya melihat seorang wanita menebarkan jaket dan duduk di atasnya. Tidak lama setelah dia duduk, seekor kucing liar mendekatinya. Ia langsung duduk di jaket dan mencari tangannya. Wanita ini menengok dan mulai menggaruk telinganya. Keduanya duduk berdampingan dengan nyaman.

 

tiarapermata@istanbulturkey

A woman and stray cat at the Eminönü, Istanbul, Turkey.

 

tiarapermata@istanbulturkey

Sarongs vendor outside Grand Bazaar.

 

tiarapermata@istanbulturkey

 

Kesempatan lain saya melihat sekelompok remaja duduk di bangku di depan saya dan bercanda. Mereka bergiliran pergi ke penjual makanan ringan dan berbagi dengan teman mereka. Lalu mereka meninggalkan tempat duduk sambil saling mengejar atau mendorong.

Saya melakukan aktivitas yang sama selama beberapa hari.

Ketika kembali dari liburan singkat, saya kembali melakukan pekerjaan saya. Saya segar dan siap dengan dengan tuntutan pekerjaan dan menyelesaikan semua ‘to-do list’. 

 

 

Facebook Comments

Pos ini juga tersedia dalam bahasa: English