Bali, Musik

KETIKA UBUD YANG CANTIK BERDANDAN

Bepergian ke Ubud tidak hanya menikmati keindahan alam tapi juga budayanya.

Saat itu ada upacara besar di seluruh pelosok Bali. Saya lupa apakah itu Galungan atau upacara lainnya. Saya kebetulan mengunjungi Ubud. Suasana meriah. Ubud yang indah menjadi lebih meriah dengan pernak-pernik upacara seperti penjor atau perangkat sesaji yang diletakkan di pinggir jalan.

Warna hijau dan kuning dari janur diselingi dengan warna yang menyolok dari ornamen sesaji membuat setiap hiasan unik dan mencolok mata. Tak jarang saya berhenti dan memperhatikan apa yang ada di dalam perangkat sesaji ini.

Upacara di Bali merupakan bagian dari kehidupan orang Bali.

Kapanpun dan di manapun orang Bali tidak pernah lupa untuk sembahyang. Ketika saya bekerja di salah satu agen perjalanan di Bali, sering melihat teman meletakan canang (sesaji kecil berisi bunga dan daun dipotong kecil-kecil) di mejanya.

 

tiarapermata@ceremonyubudbali

Pasar Seni Ubub – Art Market Ubud.

 

tiarapermata@ceremonyubudbali

Penjor. Decoration for the houses or building during big ceremonies.

 

tiarapermata@ceremonyubudbali

Penjor.


Setiap pagi saat saya bekerja, saya melihat ibu rumah tangga (kebanyakan) berdoa di tempat sembahyang di depan rumah mereka.

Upacara besar sedang berlangsung saat saya berada di Ubud. Hiruk pikuk orang-orang pergi ke kuil sudah mereda, sebagian besar bus wisata sudah pergi dan lalu lintas lebih tenang.

Teman-teman dan saya melepas lelah dari perjalanan sepanjang hari ini. Kami baru saja kembali dari Besakih lalu melewati Ubud. Kami memutuskan untuk berhenti dan berkeliling pasar, butik dan pertokoan. Kemudian kami berhenti di salah satu kafe dekat Pasar Seni Ubud.

Tempat itu terasa berbeda saat mereka berada di pertengahan upacara besar. Semua orang sibuk melakukan bisnis dan ritual sembahyang.

Orang-orang lewat dengan kostum tradisional. Seorang ibu berjalan dengan tergesa-gesa sambil membawa sesaji di kepala.

 

tiarapermata@ceremonyubudbali

Going to pray with Balinese traditional costume.

 

tiarapermata@ceremonyubudbali

 

Segerombolan remaja putri perpakaian traditional kebaya naik sepeda motor. Mereka dengan leluasa naik motor tanpa takut jatuh. Saya tidak bisa dan tidak akan pernah mencoba naik motor dengan berpakaian seperti itu.

Penabuh dan instrumen gamelan naik truk pickup membawa instrumen mereka kembali ke Banjar.

Anak-anak duduk di trotoar dengan kostum tradisional makan keripik sambil menunggu orang tua mereka. Pemandangan seperti ini menjadikan Ubud semakin cantik dan menarik.

Saat kami berjalan mengelilingi toko di sekitar Pasar Ubud, kami melihat beberapa toko tutup karena upacara. Lumrah. Tidak ada target penjualan hari itu. Prioritas pertama mereka hari itu adalah sembahyang. Bagi mereka bukan suatu pengorbanan, mereka melakukan tugas mereka kepada Tuhan sebelum melakukan kegiatan.

 

tiarapermata@ceremonyubudbali

 

tiarapermata@ceremonyubudbali

 

tiarapermata@ceremonyubudbali

Classic transportation.

 

Beberapa pelayan masih mengenakan kebaya saat melayani tamu kafe. Pemandangan umum di sini. Inilah sebabnya mengapa saya suka tinggal di Bali. Saya tidak pernah bosan dengan kehidupan biasa, yang menurut saya luar biasa ini.

Merupakan suatu kehormatan tinggal di kalangan orang Bali.

Saya bisa ambil bagian dalam hidup mereka tapi tidak menghalangi kehidupan keseharian. Orang Bali sangat toleran terhadap orang luar, seperti saya.

Sebelum saya tinggal di Bukit, Kuta Selatan, saya tinggal di Denpasar dengan menyewa kamar. Induk semang dengan rendah hati dan sederhana menerima saya dengan tangan terbuka. Mereka tidak menuntut apapun selama saya tinggal dengan mereka. Saya merasa seperti keluarga mereka sendiri.

 

tiarapermata@ceremonyubudbali

 

tiarapermata@ceremonyubudbali

 

tiarapermata@ubudceremony

Teenagers are gathering to go to temple together. On the other street an old lady was on the way back from market. Traditional basket seller on the move. Praying and working. All in ONE in harmony.

 

Saat pertama kali tinggal di Bali, seorang teman bercanda bahwa tinggal di Bali seperti berlibur setiap hari. Setiap hari adalah hari libur di Bali. Hidup dengan ritme yang lambat dan menyenangkan.

Kota dengan ritme yang cepat bukan untuk saya. Saya merasa lebih hidup di sekitar orang yang menghargai hidup daripada hal-hal materi.

Kami nongkrong di salah satu kafe dekat Pasar Ubud. Memesan secangkir kopi latte dan sepotong kue. Tempat favorit saya untuk nonton orang lewat. Saya bisa melakukan ini berjam-jam.

Kami duduk sampai tetes terakhir minuman dan kue kami tandas. Sayang kami harus kembali ke Denpasar karena hari sudah semakin gelap. Sulit untuk berdiri dari tempat duduk yang nyaman dan kembali ke kota.

Lain kali kami kembali.

 

 

Facebook Comments

Pos ini juga tersedia dalam bahasa: English