Bali, Musik

OGOH – OGOH NGRUPUK FESTIVAL SEBELUM NYEPI

Saya selalu kesal setiap kali melihat Ogoh-Ogoh Festival di Denpasar.

Saya melakukan ini selama dua atau tiga tahun berturut-turut selama tahun pertama saya tinggal di Bali. Lalu saya tidak lagi mau nonton.

Saya sama sekali tidak bisa merasakan kesenangan nonton Ogoh – Ogoh. Kami (saya dan teman) harus memarkir sepeda motor jauh dari jalan utama dan berjalan hampir satu mil. Meski sudah berjalan sejauh itu kami masih belum bisa mendapatkan akses untuk melihat parade dengan baik. Kami harus berdesak-desakan dengan penonton. Mustahil mencari celah hanya untuk berjalan diantara sesaknya penonton.

 

tiarapermata@ogohfestivalungasan

It was almost six o’clock when I walked to the field not far from home. The field is already crowded with villagers, pecalang (village security guards), spectators and tourists.

 

tiarapermata@ogohfestivalungasan

Anyone attended the festival from daylight. Villagers, tourists, and outside spectators.

 

tiarapermata@ogohfestivalungasan

The contestant started to bring ogoh – ogoh from Banjar to the festival spot.

 

tiarapermata@ogohfestivalungasan

Competition arena. No, I did not stay late and watched it. I preferred mingle with the contestants.

 

Tidak ada cara lain yang mudah.

Entah mengapa sering sekali (untuk beberapa alasan yang tidak jelas) saya berpisah dari teman. Saya pendek, hampir 158 cm. Jadi saya harus menemukan trotoar yang lebih tinggi untuk mencarinya. Jika saya tidak beruntung, saya harus menemukan jalan sendiri untuk ketempat parkir motor.

Kami memutuskan untuk pulang sebelum parade dimulai. Tidak ada gunanya berdesak-desakan dengan orang banyak. Kami lelah dan menggerutu sepanjang perjalanan pulang. Beruntung bisa menemukan jalan pulang ke rumah. Biasanya polisi sudah memasang tanda untuk mengalihkan lalu lintas ke jalan  yang lebih kecil. Pemakai jalan harus mencari jalan memutar yang lebih jauh.

Ribuan orang memadati jalan utama. Keluarga dengan anak-anak di bahu ayah mereka, bayi di gendong ibu atau anak-anak berdiri di atas sepeda motor. Belum lagi penjaja jalanan dengan balon, mainan dan makanan. Jalan utama sudah dipenuhi orang sejak siang hari. Penonton mencari tempat strategis untuk melihat Ogoh Ogoh dengan jarak lebih dekat. Meskipun parade dimulai setelah matahari terbenam, mereka sudah berada berkerumun di jalan besar jam dua siang.

 

tiarapermata@ogohfestivalungasan

 

tiarapermata@ogohfestivalungasan

 

tiarapermata@ogohfestivalungasan

 

tiarapermata@ogohfestivalungasan

Practice make prefect.

 

tiarapermata@ogohfestivalungasan

 

Teman-teman kerja harus buru-buru pulang, selambat-lambatnya tiga jam sebelum jam kerja usai. Jika mereka kelewatan jam, mereka tidak akan bisa sampai di rumah pada jam yang semestinya. Beberapa teman baru sampai di rumah pada tengah malam. Mereka terpaksa harus menunggu di pinggir jalan sampai parade selesai.

Cara termudah dan lebih asyik menyaksikan parade dari stasiun TV lokal.

Ogoh-Ogoh adalah patung yang dibangun beberapa bulan sebelum pawai Ngrupuk. Biasanya berupa patung yang mewakili Bhuta-Kala menurut ajaran Hindu. Setelah diarak pada sebuah konvoi di sekitar kota, akhirnya dibakar menjadi abu di pemakaman sebagai simbol pemurnian diri.

Setelah lama tidak melihat pawai Ogoh – Ogoh, saya bisa melihat dari jarak dekat Pawai Ogoh-Ogoh di Desa Ungasan**. Saya tidak pulang ke rumah di Jawa. Saya memilih untuk merayakan waktu tenang di rumah saya di Bali. Apalagi saat ini saya bisa melihat dengan dekat kompilasi semua Ogoh-Ogoh dari seluruh penjuru desa.

Pawai dimulai dengan puluhan wanita muda membawa obor yang kemudian di ikuti oleh Ogoh-Ogoh. Patung ini dibangun di atas platform datar yang terbuat dari kayu atau bambu. Kemudian di belakang patung Ogoh-Ogoh diikuti oleh gamelan dengan nada yang energik.

 

tiarapermata@ogohfestivalungasan

 

tiarapermata@ogohfestivalungasan

 

tiarapermata@ogohfestivalungasan

No matter how they created the platform as light as possible, it was still heavy. Therefore each contestants prepare more backups platform bearers.

 

tiarapermata@ogohfestivalungasan

 

Daya tarik sebenarnya adalah saat para pemanggul mengusung Ogoh-Ogoh menari dan berjalan dengan gerakan yang indah dan seragam.

Mereka memutar platform dengan berlawanan arah jarum jam sebanyak tiga kali. Meskipun ada lebih dari 20-25 laki-laki membawa patung tersebut, saya kagum bagaimana mereka mendapatkan semua energi untuk melakukan semua gerakan tersebut. Mereka bergerak, menari dan bernyanyi juga.

Terkadang seorang penari duduk atau menari di panggung. Belum lagi pemanggul harus berjalan beberapa mil dengan beban di bahu mereka.

 

tiarapermata@ogohfestivalungasan

Kids Ogoh – Ogoh. They seriously practice their move. Too cute.

 

Pawai Ogoh-Ogoh bukan hanya upacara sebelum Hari Nyepi tapi juga sebuah kontes.

Persaingan dinamik antara para kontestan. Setiap kontestan siap unjuk gigi memamerkan keindahan Ogoh-Ogoh, kreativitas dan dinamika yang selaras diantara pemain gamelan dan pemanggul. Terpadu menciptakan pertunjukan yang indah.

Saya tidak terlalu tertarik dengan kontes itu sendiri.

Saya lebih tertarik dengan desain Ogoh-Ogoh dan semua hiruk pikuk persiapan. Banyak hiburan ketika saya berkeliling dari satu Ogoh-Ogoh ke lainnya. Mereka menunggu giliran dengan sabar sambil berlatih memukul gamelan, menari dan memperbaiki kostum.

Saya pulang saat kontes dimulai. Saya masih mendengar raungan dan suara musik sampai jam 10 malam. Mereka masih bersenang-senang. Saya pergi tidur.

 

tiarapermata@ogohfestivalungasan

Happy Nyepi.

 

tiarapermata@ogohfestivalungasan

Happy Seclusion Day. May Peace Always Be with Us.

 

Note:

** 2012 Ogoh-Ogoh Ngrupuk Festival.

 

 

Facebook Comments

Pos ini juga tersedia dalam bahasa: English