Perjalanan Darat, Singaraja

MUNDUK, DESA DI PEGUNUNGAN BALI TENGAH

Kali ini adalah perjalanan keluarga untuk menikmati hijaunya pemandangan dan menghirup udara segar di pegunungan.

Jauh dari keramaian dan hiruk pikuk sibuknya kota dan hiruk pikuknya lalu lintas yang penuh dengan polusi udara. Tujuan kami adalah melintasi Desa Munduk , melewati danau kembar, makan siang di sekitar Bedugul area dan kembali ke Singaraja.

Perjalanan yang mengasyikkan.  Melewati tebing curam dengan pemandangan sawah, kebun pohon kelapa, pohon buah-buahan dan perkebunan cengkeh. Melihat dari dekat beberapa sawah baru selesai panen dan masih banyak lagi sawah yang tengah di tanamani.

Tidak banyak lalu lintas sejauh ini, mobil kami perlahan menyusuri bukit yang curam. Perjalanan yang indah. Sepanjang jalan kami terhibur dengan kegiatan para petani bercocok tanaman mulai dari memanen sawah dan membersihkan lahan hingga tanam kembali. Pemandangan untuk mata lelah. Kehidupan desa plus cuaca luar biasa adalah kombinasi yang ciamik untuk menikmati hari besar tamasya.

Satu kesempatan kami berhenti di salah satu penjual buah di jalan. Kami sekeluarga suka sekali durian. Sayangnya pada waktu kami datang ke Singaraja, tidak ada musim panen durian. Kebetulan disini kami menemukan penjual durian. Meski cukup mahal, kami membeli dua buah durian dan kami nikmati bersama.

Sepanjang jalan kami bersenda gurau, tertawa, dan tak jemu-jemunya menikmati pemandangan. Mobil kami terus zig-zag di sepanjang perbukitan, naik turun jalan curam sebelum sampai di Munduk.

Munduk … lama tidak bersua, sobat !.

Dahulu kala saya bekerja di agen perjalanan. Saya harus mencari rute trekking untuk grup incentive (MICE Group) atau tamu reguler. Kami, beberapa pemandu dan staf, harus mengunjungi beberapa situs sebelum memutuskan rute mana yang terbaik. Kembali ke sini seperti bertemu teman lama. Saya tidak yakin seberapa jauh perkembangan pembangunan Desa Munduk setelah sekian lama tidak mengunjunginya.

Desa yang tenang dengan iklim dingin yang berkabut. Kesegaran alamiah di lereng bukit yang ditutupi hutan, perkebunan bunga, sawah dan tanaman lokal lainnya . Tempat ini melestarikan keindahan alamnya dengan serius. Kekayaan lain gunung yang damai ini adalah air terjun yang melimpah di beberapa penjuru desa. Banyak rute trekking dari rute yang mudah ke jalur yang sulit. Banyak guest houseyang memungkinkan pengunjung untuk mengalami budaya lokal dari makanan hingga kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.

Ketika kami melewati jalan utama desa, kami bertemu beberapa wisatawan yang berkelompok atau perseorangan keluar dari guest house atau jalan kecil pedesaan. Mereka siap untuk memulai petualangan mereka melihat permata yang tersembunyi di Munduk dengan panorama sawah, hutan dan air terjun yang spektakuler.

Kami tidak turun dari mobil, hanya sekedar melintasi desa Munduk. Kami iri dengan mereka !!. Lain kali??. Mungkin saja, kenapa tidak. Saat ini, kami terpesona engan pemandangan desa dan menghirup udara segar.

Terus terang, saya ngeri dengan laju mobil. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pengemudinya, tapi karena jalan yang terjal, naik turun dengan drastis dan di kombinasikan dengan belokan yang berbahaya. Saya takut dengan manuver kecepatan atau bahaya di jalan. Beberapa kali saya harus menutup mata atau mengalihkan perhatian dengan melihat pemandangan di sekitar jendela samping saat berkendara menjadi berbahaya atau menantang. Hati saya selalu berpacu setiap kali mobil kami harus menyalip kendaraan lain atau melewati truk atau kendaraan besar di sisi yang berbeda.

Terima kasih Tuhan akhirnya kami berhenti di salah satu restoran baru yang menghadap ke pemandangan yang menakjubkan. Rumah – rumah seperti titik putih dari kejauhan dan hijaunya pepohonan cengkeh dan kelapa. Langit berawan dan kabut tipis menyelimuti bukit-bukit. Panorama yang mengagumkan. Kami menikmati secangkir kopi, jeruk panas, coklat susu ditemani dengan pisang goreng dan lumpia.

Untung setelah perhentian ini, perjalanan cukup rileks dan lebih lambat. Jalan raya lebih besar dan lebih rendah. Tidak ada kelokan yang berbahaya.

Saat kami melihat Danau Tamblingan dari jauh berarti kami sudah sampai di Pancasari. Kami tidak turun ke danau tapi kami menikmatinya pemandangan dari kejauhan. Penduduk setempat menyediakan semacam platform dari bambu yang dibangun di tebing. Pengunjung harus membayar donasi untuk masuk situs dari loket karcis. Donasi ini memungkinkan pengunjung mengambil foto dari berbagai sudut seperti ayunan raksasa, hati dari bambu atau tempat lain di sekitar panggung.

Danau Buyan (sisi timur) dan Danau Tamblingan (sisi barat), adalah danau kembar, dipisahkan oleh bukit yang tertutup hutan. Alam yang hijau dan keindahan danau sekitarnya terpelihara dengan baik. Pada salah satu kesempatan saya pernah turun ke danau, ketenangan danau terjaga dengan baik, tidak ada perahu besar hilir mudik di danau. Warga hanya menggunakan perahu kecil untuk mengantar pengunjung keliling danau.

Kami melanjutkan perjalanan ke salah satu restoran di dekat Taman Nasional Bedugul untuk makan siang. Restoran itu menghadap ke perbukitan hijau yang indah. Sayang saat itu kabut, saya tidak bisa melihat apapun. Tapi kabut ini menciptakan inuansa misterius. Kami kembali ke Singaraja dengan rute yang berbeda.

 

tiarapermata@mundukbali

 

tiarapermata@mundukbali

 

tiarapermata@mundukbali

 

tiarapermata@mundukbali

 

tiarapermata@mundukbali

 

tiarapermata@mundukbali

Lunch time.

 

tiarapermata@mundukbali

 

tiarapermata@mundukbali

 

tiarapermata@mundukbali

 

tiarapermata@mundukbali

Bedugul.

 

Facebook Comments

Pos ini juga tersedia dalam bahasa: English