Paris, Perancis

RAHASIA SENYUM MONALISA DAN ASMARA DI MENARA EIFFEL

Kami makan pagi di hotel sebelum mencari tempat parkir umum yang semalam kami temukan di tengah kota. Berkat sistem GPS di mobil dan tentunya peta kota Paris, kami sampai di tempat parkir dengan cepat.

Ternyata tempat ini bagian dari rumah sakit umum. Kami menelusuri jalan menuju ke metro station, tak jauh dari kawasan rumah sakit. Paris mempunyai transportasi publik yang sangat modern, jaringan seperti sarang laba-laba. Nyaman, murah dan aman meski malam hari. Sedikit membingungkan membaca peta jaringan transportasi ini.

Kunjungan pertama adalah Notre Dame de Paris (=Ibunda). Legenda si bongkok (Hunchback of Notre Dame) adalah salah satu hal yang membuat saya tertarik dengan gereja ini. Meski versi animasi yang saya tonton, tapi gambarannya nyaris sama dengan segala bentuk ornamen dan jendela-jendela gereja di dalam cerita. Katedral tua ini menjadi salah satu daya tarik kota Paris.

Salah satu tempat wisata di Paris yang kita tidak perlu bayar. Rata-rata kami menghabiskan 5-7 Euro per orang setiap tempat wisata. Untungnya, ada tempat-tempat yang kami tidak harus membayar.

 

Notre Dame de Paris

 

Sebelum kami mengunjungi tempat berikutnya, kami mencari makanan ringan sambil meluruskan kaki yang pegal. Setiap tempat dan sudut  di Paris mempunyai daya tarik tersendiri. Rasanya tidak bosan memperhatikan gedung-gedung tua, kehidupan orang lokal dan tentunya window shopping. Café kecil yang kami kunjungi letaknya di sebelah Katedral Notre Dame.

Rupanya pegawai merangkap jadi pelayan, kasir dan sekaligus chef.  Saya memesan pancake, dan coklat panas. Sedap. Ada lima lonceng gereja di Notre Dame dan salah satunya seberat 13 ton dan empat lonceng tambahan yang memakai roda. Lonceng-lonceng ini dibunyikan untuk menunjukkan jam, peristiwa penting, festival dan upacara gereja. Ketika kami menikmati makanan, lonceng-lonceng itu berbunyi dengan merdunya sampai beberapa menit. Sangat indah.

 

Pancake Breakfast

 

tiarapermatadaretodream

Smiling in cold day

 

Sehabis menikmati penganan,  kami menuju ke tempat wisata yang berikutnya sebelum waktu beranjak siang. Museum Louvre adalah musium yang paling banyak di kunjungi di dunia dan merupakan monumen sejarah Perancis. Letaknya di sisi kanan Sungai Seine. Museum ini sungguh luas dan besar, perlu berhari-hari untuk menelusuri tempat ini.

Lebih dari 6000 koleksi dipajang dengan berbagai kategori. Kami sejak awal hanya mau melihat lukisan Mona Lisa. Meskipun demikian kami memerlukan satu jam untuk sampai di lukisan itu.  Kami berjalan melalui ruang demi ruang yang penuh lukisan, patung dan benda yang menarik.

Kami mengamati setiap detil lukisan atau benda yang bertebaran diseluruh ruang. Perhatian saya juga dengan mosaik di lantai. Luar biasa.

Tanpa kami sadari kami berpindah dari satu gedung ke gedung lain.

 

Louvre Museum painting

 

Louvre Museum painting

 

Saya mengira bahwa saya akan bosan di museum, ternyata tempat ini sangat menarik. Sampailah kami di ruangan tempat di mana lukisan Monalisa buatan Leonardo Da Vinci di pamerkan.

Saya terkesima.

Sangat berbeda dengan imajinasi saya. Lukisan Monalisa ukurannya hanya tiga perempat dari  jendela ruangan dan sangat jauh dari pandangan mata. Mustahil untuk melihat senyum misterius yang terkenal dari jauh. Sebagai upaya menjaga kelestarian cat dan warna lukisan (pantulan dari sinar kamera) dan tentunya keamanan, pengunjung tidak boleh mendekat.  Kami hanya dapat mengambil gambar dari jarak jauh saja. Lukisan ini adalah primadona dari Museum Louvre.

 

Monalisa Smile

 

Masih banyak koleksi lain di Museum Louvre, tetapi kami masih mempunyai satu target lain hari ini, Musee de Orangerie. Museum  ini lokasinya di Kebun Tuileries (Jardin Des Tuileries) dikelilingi oleh Louvre, sungai Seine dan the Place de la Concorde.

Kebun yang luasnya 25 hektar ini masih memiliki desain tahun 1664 dengan beberapa kolam air mancur, patung dan dua museum. The Galerie Nationale du Jeu de Paume dan  the Musée de l’Orangerie yang memperagakan lukisan water lily buatan Claude Monet.

 

Jardin

Walking down beautiful garden

 

Kebun ini letaknya persis di depan Museum Louvre, kami melintasi kebun ini untuk mencapai museum berikutnya. Tempat rileks untuk warga Paris, mereka membawa makan siang atau sekedar duduk di kebun ini untuk melepas lelah.

Inspirasi lukisan water lili, yang terkenal sebagai Nympheas, berawal dari kebun lili Claude Monet. Karya pelukis ini sangat indah dengan garis modern. Ukuran lukisannya pun tidak tanggung-tanggung.  Lukisan di museum ini menyegarkan mata yang capek. Warna-warni yang mengundang gairah dan semangat.  Setiap lukisan membawa ke lukisan lain seperti cerita yang bersambung.

Museum ini tidak melulu untuk lukisan Claude Monet, karya pelukis lain  juga dipamerkan di museum ini.

 

Monet Museum

 

Tanpa kami sadari waktu bergulir dengan cepat. Untung kami menyempatkan untuk membeli penganan sepanjang jalan sehingga kami tidak kelaparan. Salah satu cara yang baik untuk menjaga stamina dalam perjalanan, jangan menunggu lapar. Kami menyempatkan makan pancake di Notre Dame, minum kopi, susu coklat bahkan berhenti untuk makan ice cream. Karena tidak tahu lagi kapan dan dimana ada makanan pada waktu kami lapar.

Kami menyusuri jalan dan mengandalkan transportasi umum untuk melihat….Menara Eiffel!!!.

Pertama kali menara ini dibangun, banyak menimbulkan kontroversi di kalangan penduduk kota Paris. Mereka sangat terkejut dengan struktur menara yang aneh dan tidak artistik ini. Eiffel adalah insinyur yang handal. Dia mempertimbangkan pentingnya tekanan angin dan struktur bangunan yang tahan goncangan alam. Tapi dia tidak dapat menahan tekanan dari penduduk kota. Balai Kota melayangkan surat bahwa pada tahun yang telah ditetapkan, menara ini harus di bongkar.

Kemudian terjadi perang dunia, menara ini menjadi menara pengintai dari serangan musuh. Setelah itu dimanfaatkan untuk keperluan lain dari pemerintah kota Paris. Pada akhirnya menjadi monumen nasional.

 

Paris from Eiffel Tower

 

Panorama Eiffel Tower

 

Meski antrean tidak terlalu panjang, kaki saya pegal menunggu di pintu masuk. Tapi tidak menyurutkan langkah saya sampai di level kedua dari menara ini. Tiga ratus enam puluh derajat panorama dari atas menara ke seluruh kota Paris. Dinginnya cuaca tidak juga mengoyahkan kami untuk melihat setiap sudut menara Eifel dan mengagumi indahnya Paris di waktu senja. Untung saat itu bukan high season di Paris jadi antrean tidak panjang.

Kami berencana untuk melihat Eiffel di waktu malam. Sambil menunggu waktu kami makan malam di café terdekat. Kami tidak kecewa, menara  Eiffel semakin cantik di waktu malam. Cahaya warna emas berpendar ke segala penjuru, kemudian diganti warna kelap-kelip cahaya biru.  Tak puas-puas kami memandang ribuan cahaya yang bertebaran malam itu, tapi kami harus kembali cepat ke hotel. Besok hari yang sibuk.

 

Eiffel Tower day and night

 

Catatan:

  • Cerita ini berdasarkan pengalaman saya pada tahun 2008. Mungkin ada perkembangan atau perubahan sesudah cerita ini ditulis. Jika anda ingin melakukan perjalanan, carilah  informasi yang terkini.
  • Kebanyakan photo diambil oleh adik saya. Beruntung karena saya memiliki lebih banyak photo dengan berpose sendirian dibanding dengan perjalanan saya yang lain. 

 

 

Facebook Comments

Pos ini juga tersedia dalam bahasa: English