Bali, Bekerja di Luar Negeri

SEMUANYA BERAWAL DARI KECIL DAN TIDAK PENTING

Saya sedang duduk di rumah teman saya saat membaca sebuah koran lokal. Kami baru saja menikmati makan siang yang lezat.

Saya membalik halaman berita sampai mencapai halaman iklan lokal. Saya selalu meluangkan waktu untuk membaca halaman iklan dari koran atau situs pencarian tenaga kerja setelah saya mengundurkan diri dari pekerjaan di agen perjalanan. Saya mengirim begitu banyak lamaran kerja. Kadang-kadang aku menerima email ucapan terima kasih. Beberapa kali berakhir dengan wawancara.  Banyak kali tanpa respon.

Seperti sore ini, saya membaca dengan seksama bagian lowongan pekerjaan baris demi baris. Saya membaca iklan kurang lebih seperti ini:

 

“Looking for a guest service agent, bellman and butler for overseas resort. Please send your CV to fax xx xxxx”

 

Saya agak enggan karena faksimili mahal. Tapi saya tetap melakukannya. Saya pergi ke pusat komunikasi lokal. Error sampai tiga kali. Yah, setidaknya saya sudah coba. Seperti biasa, tidak membiarkan harapan saya melambung. Saya pulang ke rumah dan tidak pernah berpikir tentang hal itu.

Singkat cerita, saya diwawancarai oleh perwakilan lokal tidak lama setelah mengirim resume. Waktu bergerak cepat setelah wawancara pertama saya. Saya tidak berpikir dua kali, aku menerima petualangan luar negeri pertama saya. Saya jual sepeda motor, mengemas tas dan membagi-bagi barang saya.

 

tiarapermatadaretodream

I always missed this place. (Tegalalang – Ubud)

 

BLUE AFTERNOON IN NUSA DUA

Peninsula Nusa Dua, Bali

 

BLUE AFTERNOON IN TURKS AND CAICOS ISLAND

Fly around the world to this tiny country

 

Kemudian…….hidup di luar negeri mulai.

Saya tidak pernah membayangkan kehidupan ini  sulit. Jauh dari peradaban, negara kecil di Karibia. Ketika saya pertama kali di wawancarai, saya pergi ke internet cafe dan mencari tahu dimana Turks dan Caicos Island. Saya tidak pernah mendengar negara ini. Jauh dari negara saya, perjalanan hampir tiga hari.

Saya ingat hari itu, 11 September 2004. Saya pergi dengan tiga teman baru lainnya. Sangat mudah untuk berurusan dengan situasi yang tidak menyenangkan atau kejadian tak terduga apabila ada teman seperjalanan.

Perasaan takjub dimulai ketika kami sampai Providenciales. Saya merasa keluar dari zona kenyamanan di Turks and Caicos Island. Bandara internasional terkecil yang pernah saya tahu. Saya ternganga ketika kami harus naik taksi selama 20 menit ke dermaga.  Saya jarang melihat mobil lewat.

Kami melanjutkan perjalanan tiga puluh menit kemudian dengan naik kapal di kegelapan.

 

BLUE AFTERNOON IN TURKS AND CAICOS ISLAND

North Caicos, Turks and Caicos Island

 

VIVID SUNSET COLORS IN TURKS AND CAICOS ISLANDS

Sunset in Turks and Caicos

 

GOLDEN SUNSET IN KUTA, BALI

Sunset in Kuta, Bali

 

Hal yang mengherankan tidak berhenti saat itu juga. Saat itu musim badai, nyamuk di mana-mana. Saya menemukan di kamar tidur, kamar mandi, lemari…….dimana saja. Malah ada yang terjebak dalam pakaian. Nyamuk terbesar yang pernah saya tahu.  Merubung tidak satu atau dua, tapi seperti tentara nyamuk. Tidak ada yang menghentikan mereka.

Saya tidak suka bau obat pembasmi nyamuk, jadi saya pergi bekerja berpakaian lengkap dari kepala sampai kaki, semua ditutup kecuali wajah. Suatu hari saya lupa dengan topi, nyamuk menyerang kulit kepala saya. Aaargh menjengkelkan.

Saya masih di sini.

Setelah 10 tahun (omong-omong saya mengambil cuti selama dua tahun), saya masih bergairah dengan petualangan saya. Mudah-mudahan lebih bijaksana dari 10 tahun yang lalu.

Saya selalu tidak sabar dengan perjalanan berikutnya.

Miracle shall  follow miracles and wonder shall never cease
Florence Scovel Shinn

Mulai dari…keajaiban kecil, 2-3 baris iklan koran local.

 

Facebook Comments

Pos ini juga tersedia dalam bahasa: English